Sabtu, 21 Februari 2009

APAKAH DOA MENGUBAH SESUATU ?

Mereka mengatakan bahwa doa mengubah sesuatu, tetapi apakah doa SUNGGUH dapat mengubah segala sesuatu ?
Ya! DOA SUNGGUH DAPAT MENGUBAH SEGALA SESUATU!

Apakah doa dapat mengubah suatu keadaan secara tiba-tiba ?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah caramu memandang situasi tersebut!

Apakah doa mengubah kondisi keuanganmu dimasa depan?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kepada siapa engkau berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari!

Apakah doa mengubah hati yang hancur atau tubuh yang rusak ?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah sumber kekuatan dan sumber penghiburanmu!

Apakah doa mengubah apa yang kau butuhkan dan inginkan ?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah kebutuhanmu menjadi sesuai dengan keinginan Tuhan!

Apakah doa mengubah caramu melihat dunia?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah dengan mata siapa kau akan melihat dunia!

Apakah doa mengubah penyesalanmu di masa lalu?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubah harapanmu di masa depan!

Apakah doa mengubah orang-orang disekitarmu ?
Tidak, tidak selalu, tetapi doa akan mengubahmu-masalah tidak selalu terletak dalam diri orang-orang disekitarmu!

Apakah doa mengubah hidupmu dengan cara yang tidak dapat kau jelaskan?
Oh, ya, selalu! dan Doa akan benar- benar mengubah seluruh dirimu!

Apakah doa sungguh mengubah segala sesuatu ?
YA, doa sungguh mengubah segala sesuatu.

Ternyata Ayah Itu Menakjubkan!

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan.
Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.
Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.
Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.
Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.
Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.
Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis…. jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala (*_~).
Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.
Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.
Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.
Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan.
Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.
Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?…. mmmmhhh…” tidak terlalu mengecewakan” (^_~).
Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. (*_~).
Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.
Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam… walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.
Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.
Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.
Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.
Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah
AYAH ITU MURAH HATI…..
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…. .
Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ….
Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..
Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….
Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. .. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….
Ayah akan berkata “tanyakan saja pada ibumu” ketika ia ingin berkata “tidak”.
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin
Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.
Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
Ayah mengira seratus adalah tip..; Seribu adalah uang saku..; Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…
Ayah tidak suka meneteskan air mata …. ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.
Kalau tidak salah ayah pernah berkata :” kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya”
Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”
Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”
Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….
Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu…
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….
Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.
Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah, ssssssssttt…!
Tau gak siii? Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN
Sumber : Unknown (Tidak Diketahui)

-->

Jakarta - Yogya via Selatan

beberapa hari yang lalu, aku melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke Yogya, melalui jalur selatan ( Bandung - Cilacap - Yogya ).perjalanan ini aku lakukan pada siang hari. ini pengalaman pertama bagiku, ke Yogya melalui jalur selatan, siang hari pula. biasanya aku menggunakan kereta,sesekali pesawat atau bis malam ( tentu lewat pantura, pantura aku lihat mempunyai budayanya sendiri, baik dari semarang maupun subang, bahkan lebih ke timur Tuban, maupun lamongan (budaya pantai? ).
dengan perjalanan siang hari ini memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati perjalanan ini. aku bisa melihat pemandangan, melihat daerah yang belum pernah aku lihat.
selalu seperti ini, wilayah Jawa bagian selatan terlihat lebih sejuk, subur, banyak pohon dan karakter agraris lebih kuat. bagi untuk etnik sunda maupun jawa.

entah karena apa,mungkin terbawa hati yang gembira, aku bisa merasakan keindahan yang dipancarkan oleh tiap objek yang tertangkap mataku. suasana daerah, tanaman, batuan, bagiku mereka mampunyai pesonanya, keindahan mereka tersendiri. aku berharap, suatu saat sesering mungkin aku mengajak keluargaku menyusuri daerah - daerah indah ini merasakan pesona dan kesejukan, keindahanya ( bandung, tasik, ciamis ).

tak kalah pentingnya sebagai sebuah media pembelajaran bagi putri tercintaku, Fathimah Azzahra untuk mengenal, mencintai budaya, masyarakatnya yang kelak pasti akan membesarkan dan mendidiknya menjadi manusia.

wilayah selatan dari jakarta ke yogya, aku bisa melihatnya dalam bebrapa hal, etnik sunda, banyumasan, jawa. banyumasan aku tempatkan pada etnik tersendiri, walaupun meungkin bisa dikatakan sebagai sub jawa. ini adalah daerah peralihan antara jawa dan sunda.

selain itu, dengan melihat bis - bis antara banjar dan jakarta, aku melihat, betapa arus urbanisasi di daerah ini begitu kuat. rata rata mereka pergi mencari nafkah ke Jakarta.

Selasa, 27 Januari 2009

Bagaimana Imajinasi Dapat Merusak atau Membangun Masa Depan

* Oleh : H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D

Banyak kini pendapat orang mengenai cetusan pikiran yang bersumber pada nuansa negatif ataupun positif. Hal seperti ini tergantung dari pengaruh lingkungan yang kita percayai atau yang dikembangkan pada diri sendiri. Didalam hal ini, tidak banyak orang yang mengetahui dengan pasti, bahwa apapun yang ditimbulkan dari sumber nuansa pikiran, akan dapat mengadakan effek NYATA.
Pada banyak riset yang menyangkut cetusan pikiran manusia, terungkap bahwa bentuk gambaran yang timbul sebagai hasil dari cetusan yang dikembangkan, memberikan produksi suatu kenyataan. Kenyataan seperti yang dihasilkan itu, pada kebanyakan orang tidak diperhatikan dengan ke-waspada-an tuntas. Inilah yang menjadi suatu produksi dari imajinasi tadi.

Orang yang sangat sibuk, serta harus menghadapi banyak hal yang harus diperhatikan, tidak mungkin melaksanakan konsentrasi atau fokus pada performa berfungsinya Otak. Segala sesuatu telah menjadi refleksi dari cara penanggapan yang telah dibiasakan berkembang didalam dirinya.
Kebiasaan itulah yang kadangkala dapat menjerumuskan kita kearah yang negatif atau mendorong kita kearah sebaliknya atau positif. Apakah hal yang penulis ungkapkan ini pernah diperhatikan benar oleh para pembaca ? Bila semua orang mempunyai keterampilan untuk selalu memperhatikan cetusan pikiran yang menjadikan tindakan, maka apapun yang akan mempunyai nuansa negatif akan dapat dicegah dan diarahkan atau dirubah menjadi positif.

Bila cara seperti yang dibentangkan itu, dapat diperhatikan dengan tuntas, maka masa depan kita akan jauh lebih produktif, membangun dan cerah. Apakah yang dapat kita laksanakan untuk mencapai hal itu, akan terletak didalam kesanggupan serta sikap kita terhadap diri sendiri yang adalah SUMBER dari semua rangkuman cetusan pikiran yang bertaburan sebagai vibrasi yang menggetarkan substansi pembawa getaran vibrasi itu didalam atmosfir dimana manusia berada.

Kita sebenarnya terperangkap didalamnya dan bila tidak mempunyai kemampuan suatu PENGENDALIAN diri yang efektif dan tuntas, maka bagaimanapun, kita akan terseret oleh bentuk vibrasi-vibrasi yang berada didalam atmosfir tersebut. Bisakah para pembaca menangkap penjelasan yang sedang dibentangkan ini ?

Kita tidak akan mampu untuk meneliti dengan rinci semua masukan dengan bentuk apapun, yang sedang melanda diri kita. Kemahiran serta keterampilan dalam meneliti atau mengontrol akibat dari masukan, yang sedang melanda itu, dapat diperoleh serta dipelajari dengan suatu system yang telah memberikan bukti-bukti imperis bahwa hal pengendalian cetusan pikiran itu memang dapat dikuasai. Penguasaan itu harus dilaksanakan melalui konsentrasi pada pengetahuan akan ampuhnya IMAJINASI terhadap diri sendiri. Dan hal ini merupakan lagi-lagi suatu PEMBIASAAN untuk memberikan keterampilan atau ?skill? yang efektif dan positif pada segala bentuk tindakan yang akan diaktifkan.

Meneliti semua tindakan yang akan dilaksanakan dalam sehari-hari, memang secara umum akan tidak semudah dibentangkan. Seakan kita akan menjadi lamban karena memerlukan waktu tertentu didalam hal mengontrol dan pelaksanakannya. Tapi sudah tentu hal itupun akan tergantung dari suatu KONDISI Alam Pikiran atau MIND, bukan ? Semua tindakan bersumber pada pengontrolan Mind tadi. Kontrol itu memerlukan penguasaan dari sumber cetusan pikiran yang dapat dipelajari dengan tuntas sekali, bukan dari bentuk penguasaan yang timbul tenggelam, tapi yang selalu siap siaga dan tersedia setiap saat dibutuhkan.

Penulis akan memberikan suatu dasar teknik yang setiap pembaca dapat melaksanakan melalui pengendalian tidur. Segala bentuk sifat yang telah kita jadikan didalam diri kita adalah pengaruh yang ditimbulkan sebagai hasil penerimaan atau akseptasi kita yang menyangkut masukan yang ditangkap bagian Otak yang berfungsi pada saat kita sedang bangun sadar, yaitu Otak bagian Kiri.

Buatlah secara tertulis terlebih dahulu bentuk GAMBAR yang kita inginkan dengan nuansa positif, Gambaran ini jangan dipusatkan pada diri sendiri, misalnya kaya sendiri, makmur sendiri dan lain tindakan yang mementingkan diri sendiri. Bentuklah gambaran yang mengikut sertakan orang lain, sesama kita diluar keluarga. Misalnya orang-orang yang miskin atau mereka yang didalam kondisi hidup yang tidak dapat dikatakan LAYAK.

Membentuk gambaran yang ditulis ini merupakan dasar dari pegangan kita, supaya bentuk tadi tidak akan berubah-ubah, tapi akan menetap seperti yang kita karang. Ciptaan penggambaran kita tersebut akan menjadi masukan bagi Otak bagian Kanan dan akan direkam sebagai yang diangankan itu. Tanpa mengadakan tulisan SKENARIO, maka penggambran imajinasi akan bisa berubah-ubah, sehingga akan mengaburkan fokus yang diperlukan bagi pelaksanaannya oleh bagian Otak tersebut melalui pengelolaannya pada kondisi bawah sadar. Inilah yang dinamakan PROGRAMMING.

Pengelolaan bentuk gambar inilah yang membawakan kita pada hal-hal yang bisa negatif ataupun positif menurut nuansa yang kita sendiri masukkan melalui tulisan tadi. Inilah yang merupakan ketentuan yang tak dapat diabaikan atau dianggap remeh. Hasilnya akan selalu sesuai dengan ketentuan yang telah kita buat sendiri serta berdasarkan kejelasannya. Penulis sendiri telah melaksanakannya mulai 25 tahun silam, dan pengalaman yang diperoleh memberikan kepercayaan yang mendalam, bahwa imajinasi merupakan dasar yang sangat efektif pada konstruksi masa depan.

Sudah tentu, kita mempunyai banyak sekali angan-angan atau cita-cita. Demikian banyaknya, sehingga akan sukar untuk melaksanakan secara rinci atau detil. Ketahuilah bahwa rincian apapun dari angan-angan kita termasuk didalam suatu bingkisan yang sesuai dengan angan-angan tersebut. Didunia ini, kita tidak dapat hidup dan beraktivitas sendiri. Kita membutuhkan peran orang lain yang caranya harus tidak mengadakan penganiayaan, tapi justru menariknya didalam kegiatan gambaran kesejahteraan kita itu. Penulis harapkan ungkapan ini dapat dimengerti serta difahami oleh para pembaca.

Imajinasi yang lengkap inilah yang akan dibawa tidur dan direkam oleh bagian Otak yang tak terbius didalam tidur, yaitu Otak bagian Kanan tadi. Bila apa yang diuangkapkan itu dilaksanakan secara rutin, maka melalui suatu pengelolaan yang tintas dan sesuai dengan RENCANA BESAR dari MAHA PENCIPTA kita dapat menuju kepada tugas yang memang sudah diperuntukkan bagi setiap manusia.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Aku Tak Mencintaimu

Pablo Neruda

Aku tak mencintaimu seolah kau serbuk-mawar, atau permata, atau panah anyelir yang menyalakan api. Aku mencintaimu karena kau sungguh gelap untuk dicintai, dalam rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu karena kau tanaman yang tak pernah mekar tetapi cahaya bunga-bunga tersembunyi di dalam dirimu; terima kasih bagi cintamu suatu aroma padat, keluar dari tanah, hidup kental di tubuhku.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu lurus-langsung, tanpa kerumitan atau kebanggaan; demikianlah aku mencintaimu karena tak tahu harus bagaimana

beginilah: jika aku tiada, begitu juga kau, begitu dekat tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu dekat matamu terpejam saat aku tertidur.
Diterjemahkan oleh; Eka Kurniawan
23 Mei 2001 - 02:31

Shambala Pengalaman Spiritual Lintas Agama


Oleh Sukidi


"...If we belong to God,
God belongs to us;
we are in a relationship.
This is mysticism of course,
but any one of us can experience it daily. God is related to us in a personal way..."
(David Steindl-Rest
with Thomas Matus, in Fritjof Capra,
Belonging to the Universe, 1991).


"Mystical identification transcends
the aristocratic virtue courageous
self-sacrifice.
It is self-surrender
in a higher, more complete,
and more radical form.
It is the perfect of self-affirmation."


(Paul Tillich, The Courage to Be, 1952).

SHAMBHALA sebagai refleksi pengalaman spiritual? Inilah disclosure baru, yang tak saja menajamkan aspek teoretis Shambhala, tetapi juga menyingkap the heart of Shambhala sebagai spiritual experience. Pengalaman ini diharapkan dalam menjadi life style manusia era milenium ketiga ini yang bersandar pada kearifan dan kebijakan hidup model Shambhala.


Wawasan teoretis Shambhala

Dalam pegunungan dekat Tibet yang diselimuti salju terdapat komunitas suci yang sudah lama dipikirkan "orang" sebagai "mitos." Mitos yang telanjur menjadi "utopia" legendaris komunitas Tibet. Legenda adanya pusat kearifan paradise, kebijaksanaan abadi dan universal, yang menjadi tempat suci spiritualis, khususnya Buddhis, Taois, spiritualis Hindu dan Shamanisme. "There is not even a sign of nonvirtue or evil in these lands," begitu ditegaskan spiritualis Garje K'am-trul Rinphoce dalam A Geography and History of Shambhala, 1974.

Betul, jangankan kejahatan, kosa kata perang dan permusuhan pun tak dikenal. Yang hidup dalam keseharian hanyalah kebahagiaan, keharmonisan, dan kearifan. Inilah the place of peace, of tranquillity, yang bernama Shambhala (Sansekerta, Asia); Aryavarsha (Hindu); Hsi Tien (Cina); Belovodye (Rusia Kuno); Janaidar (Kirghiz). Di Barat, kebanyakan orang lebih mengenalnya Shangri-la, "mitos surga" yang diabadikan novelis James Hilton dalam Lost Horizon dan filmnya.

Sebagai the place of peace, Shambhala secara eksternal sesuai tradisi Buddha di Tibet, ditafsirkan sebagai a geographic location, lokasi geografis yang menjadi sumber inspiratif Sang Buddha dalam mengajarkan Kalachakra Tantra. Kitab klasik ini mengupas misteri Shambhala. Dalam mitologi Pon (kepercayaan asli orang Tibet), diceritakan lokasinya di Central Asian Kingdom yang dipercayai menjadi sumber dan pusat energi spiritual. Saking indahnya Shambhala, spiritualis Andrew Tomas menamai judul bukunya Shambhala: Oasis of Light (London, 1976). "Shambhala is a center of high evolutionary energies in Central Asia," begitu juga dikukuhkan Rene Guinon dalam bukunya The Lord of the World (UK, 1983).

Shambhala pun lantas menjadi simbol keharmonisan hidup dengan jalan spiritual. Chugyam Trungpa, spiritualis yang otoritatif menyingkap tabir Shambhala menyebutnya "authentic spiritual practice", praktik spiritual yang otentik, yang telah ribuan tahun lamanya menjadi jalan hidup para spiritualis dan mistikus.

Pengalaman spiritual lintas agama

Jalan spiritual dimaksud, sudah ditemukan Redfield sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala (1999), yakni prayer fields, core sejati Shambhala yang menjadi pengalaman spiritual lintas agama. Bukankah prayer fields, sekali lagi, menjadi pesan perenial semua agama?

Dalam agama Buddha, misalnya, prayer fields adalah hakikat Shambhala itu sendiri, yang menjadi kodratnya Buddha, yang karenanya diekspresikan dengan meditasi sebagai pengalaman spiritual. "Meditation is the method of realizing, or reflectively considering, a religious truth in order to arrive at a personal understanding and love for what it signifies." Tepat jika agama Buddha menjadikannya sebagai the Heart of Buddhist Meditation. Ini karena kata kunci meditasi dapat membuka kesadaran hati untuk mengalami apa yang oleh Maharishi Mahesh Yogie (1958) dinamakan transcendental meditation. Puncak meditasi yang membuat spiritualis Buddha mengalami great relaxation, inner peace, enhanced vitality and creativity. Inilah model spiritual adventure khas Shambhala dalam agama Buddha, yang mempraktikkan prayer fields dengan jalan meditasi sebagai pengalaman spiritual.

Prayer fields, yang menjadi core Shambhala sebenarnya juga merupakan model pengalaman spiritual dalam tiga agama semitik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Bukankah tafsiran mudahnya prayer adalah doa itu sendiri, yang selama ini menjadi tradisi spiritual penganut ketiga agama besar itu?

Spiritualis Yahudi, misalnya menghayati Cabala sebagai sistem pengalaman spiritualnya. Dan menjadi rahasia umum pula, bahwa bangsa Yahudi selalu merasakan sebagai the experience of feeling chosen. Juga spiritualis Kristen, baik Katolik maupun Protestan, meyakini the true devotional, dan the idea of Holy Spirit sebagai pengalaman spiritual yang mencerahkan batin. Hal itu tidak saja merupakan peningkatan kesadaran diri sebagai bagian dari Tuhan, tetapi juga meningkatkan pengalaman diri sebagai a higher self. Itulah sebabnya, spiritualis Kristen meyakini Yesus Kristus yang merupakan bentuk perwujudan dari "Kehadiran" Yang Ilahi sebagai jalan keselamatan bagi orang-orang Kristen.

Sebagai Muslim, prayer fields, yang menjadi core Shambhala, tak lain dan tak bukan adalah doa itu sendiri yang sudah lama dipraktikkan seorang Muslim. Dalam shalat, zakat, puasa, dan haji, setiap Muslim selalu berdoa kepada Allah. Begitu pula dalam aktifitas keseharian, Muslim selalu diperintahkan untuk mengawali aktivitasnya dengan doa. Dan jangan kaget jika belakangan ini, mayoritas Muslim sedang meningkat pesat dalam tasawuf sebagai spiritual healing (Robert Peel) dan the faith healing (Claude Frazier). Katanya, "faith healing is the cure or relief of physical or mental ills by prayer or religious rituals," begitu rumusan pemikiran yang khas Shambhala Claude Frazier dalam Faith Healing: Finger of God? Or Scientific Curiosity? (1973).

James Redfield, pencetus prayer fields sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala, berkesimpulan: "each religion emphasized different aspects of this mystical interaction with God." Jadi, pengalaman spiritual lintas agama seperti dipaparkan di atas, hanyalah beda penekanannya saja, dalam konteks interaksi-spiritual dengan Tuhan. Tetapi, pada tingkat esoteris (kata Huston Smith), esensial (kata Baghavan Das), atau transenden (kata Fritjof Schuon), semua agama mengalami titik temu, yang dalam The Secret of Shambhala disebut-sebut Redfield sebagai One Reality, dan One Divine Source.

Secara jenius Redfield melanjutkan kesimpulannya: "the integration of all religious truth is important if the force of prayer-energy is to grow large enough to resolve the dangers posed by those who fear." Sungguh liberal! Ternyata, titik temu agama-agama yang diekspresikan dalam pengalaman spiritual lintas agama menjadi penting manakala kekuatan energi doa meningkat cukup pesat untuk mengatasi bahaya dan ketakutan eksistensial yang seringkali menghantui keseharian hidup kita.

Prayer, pada akhirnya mengingatkan saya pada Ibu Teresa dalam ungkapan bijaknya, "prayer in action is love, and love in action is service." Suatu mutiara bijak khas Shambhala, yang langka di tengah kebisingan dunia modern dewasa ini. Kemudian saya membayangkan, jika setiap manusia di planet Bumi ini tercerahkan dengan keinsyafan spiritual, dengan prayer field yang menjadi core Shambhala dan pesan suci semua agama, maka saya sedang menyaksikan lahirnya generasi baru yang dalam manuskrip The Celestine Vision disebut-sebut sebagai Spiritual Being of Lights. Prototipe makluk spiritual yang tercerahkan, bersifat rohani-spiritual, dan karenanya, mengalami keselerasan dan keharmonisan hidup.


* Sukidi, staf Dubes RI di Oslo, alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Ciputat, e-mail; Sukidioslo@hotmail.com.

Petualangan Spiritual ke Shambhala


The Secret of Shambhala; In Search of the Eleventh Insight, James Redfield (Warner Books, New York, November 1999) xi + 238 hlm.


--------------------------------------------------------------------------------

PETUALANGAN spiritual ke Shambhala? Inilah gaya James Redfield mengemas novel spiritualnya The Secret of Shambhala, suatu kemasan yang tak saja mengusik kesadaran keimanan kita yang telanjur mapan, tetapi juga membuat kita terkagum-kagum seraya berteka-teki apa itu Shambhala? Hadirkah ia secara fisik atau sekadar mitos belaka? Dan bagaimanakah isi pencarian wawasan spiritual kesebelas dalam petualangan spiritual ke Shambhala?

Melalui kejelian membidik inti novel spiritual yang sarat percakapan antarsubjek (Bill, Natalie, Yin, Wilson James, Ani, Hanh, dll) dan obyek (Kathmandu, Nepal, dan Lasha di Tibet), maka tersingkaplah misteri Shambhala.

Awal pencarian Shambhala yang diceritakan Redfield, dimulai dengan kata-kata seorang anak perempuan bernama Natalie, 14 tahun umurnya. "She has some information about a place you would be interested in. Some location in the north of Tibet?" begitu novel ini dimulai, mengundang tanda tanya apa gerangan misteri di Tibet itu.

Bayangkan saja, konsentrasi pikiran kita tersedot pada petualangan spiritual ke Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju, sambil intuisi kita menerawang kota suci yang bertebaran intan dan permata di mana hidup komunitas suci ribuan tahun lamanya dengan penuh keselarasan. Shambhala-kah itu? Ya, sesuai tradisi spiritual di Tibet.

Konon, ia memang benar-benar ada secara fisik, terletak di kawasan utara Tibet (Cina). Hanya saja belakangan ini spiritualis Buddha rupa-rupanya meliput Shambhala hanyalah sebagai representasi "a spiritual state of mind," bukan tempat yang nyata (Lihat: Shambhala, Pengalaman Spiritual Lintas Agama). Nah, sebagai a spiritual state of mind, Shambhala pun menjadi cara/jalan hidup bagi para spiritualis dan mistikus.

Mereka itu selalu mengajarkan tentang pandangan dan sikap hidup yang harmonis, selaras, bermakna, dan sarat keinsyafan spiritual. Itu pula sebabnya kenapa Taoisme di Cina begitu fenomenal di kalangan spiritualis.

Ia memang mengartikulasikan pesan Shambhala: sikap hidup yang arif dan bijak. Persis seperti yang dipopulerkan Marc de Smedt (1996) sebagai The Wisdom of Tao. Suatu kebijakan hidup model Taoist-spiritualis yang menjadi hakikat Shambhala.

Maka, jika novel ini diletakkan dalam kerangka "a spiritual state of mind" yang menjadi hakikat Shambhala, di sinilah kita dapat menangkap pesan sejati petualangan spiritual ke Shambhala. Karena, Redfield menjadikan The Secret of Shambhala hanyalah sebagai "sarana pencarian wawasan kesebelas" sebagaimana isi anak judul buku itu. Suatu pencarian wawasan spiritual yang kesebelas yang tak kunjung usai. Dan memang, bukankah pencarian dan petualangan spiritual itu sendiri tak akan pernah usai?

Bayangkan saja, novel The Celestine Prophecy yang diluncurkan Redfield tahun 1993 (yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Manuskrip Celestine) dengan sajian sembilan wawasan spiritual, ternyata laku keras di pasar Amerika. Sesuai info terakhir dalam sampul belakang buku ini, sudah 8,5 juta salinan terjual habis di lebih dari 35 negara. Sungguh luar biasa, dan kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja! Dari hanya sembilan wawasan spiritual dalam Manuskrip Celestine, ternyata menyedot perhatian publik, utamanya generasi baru (New Age) yang bosan dengan kebisingan dunia modern dewasa ini.

Lebih-lebih sejak Redfield meluncurkan sepuluh wawasan (spiritual) dalam The Tenth Insight: Holding the Vision (1996), novel The Celestine Prophecy bersama The Tenth Insight langsung ngetop menjadi bestseller selama 74 minggu di daftar buku terlaris New York Times, AS. Ini membuat Redfiled menjadi terkenal.

Pertama, ia terpilih sebagai penulis bestseller hardcover di dunia pada tahun 1996, sebagaimana disiarkan BP Report 13 Januari 1997. Dan kedua, Redfield pun memperoleh penghargaan tertinggi yang diberikan Senat Italia pada Konferensi Internasional ke-23 Pio Manzu di Rimini, Italia, Oktober 1997. Sebagai informasi, Pio Manzu adalah organisasi non-pemerintah di bawah naungan PBB yang diketuai mantan Presiden Uni Soviet, Mikhel Gorbachev.


***
SEKARANG pertanyaannya adalah kenapa publik begitu antusias menyambutnya? Di samping berkat genuisitas dan otentisitas wawasan spiritual Redfield, publik juga sedang mengalami apa yang oleh Rederic dan Mery Ann Brussat disebut gejala "kemelekan spiritual". Dalam pembukaan buku antologinya Spiritual Literacy; Reading the Sacred in Everyday Life (1996), penulis itu mengatakan hidup ini adalah petualangan suci. Persis gaya petualangan spiritual ke Shambhala dalam buku ini.

Itulah sebabnya ketika terdengar kabar manuskrip Celestine kuno itu ditemukan, apalagi disajikan Redfield dengan gaya petualangan-ibarat drama-drama horor-yang berlangsung di Peru, antusiasme mereka makin menjadi-jadi. Maklum, manuskrip itu sengaja dikemas Redfield dengan sajian wawasan spiritual yang genuine yang selama ini digandrunginya.

Sesuai transkrip The Celestine Insight dalam Jurnal Celestine, sepuluh wawasan spiritual itu meliputi A Critical Mass, The Longer Now, A Matter of Energy, The Struggle for Power, The Message of the Mystics, Clearing the Past, Engaging the Flow, The Interpersonal Ethic, The Emerging Culture, and Holding the Vision.

Kesepuluh wawasan itu sebenarnya berujung menuju pencerahan spiritual tulen. Sayang, untuk menuju ke situ kadang penuh lika-liku kehidupan, bahkan sarat pengalaman misterius. Bayangkan, manuskrip yang berisi wawasan kehidupan itu malah dituangkan Redfield sebagai ceritera petualangan, ibarat drama-drama horor yang berlangsung di Peru.

Bukankah itu benar-benar misterius? Lebih misterius lagi, A Critical Mass yang menjadi wawasan pertama manuskrip itu justru menceritakan berkembangnya suatu kesadaran di antara individu-individu dalam kelompok massa yang kritis, yang mulai menyadari bahwa hidup ini adalah suatu perjalanan "kosmis" yang sarat dengan "kebetulan-kebetulan hidup secara misterius".

Psikolog Carl Gustav Jung menyebut hal itu sebagai synchronicity, yakni persepsi mengenai hal-hal kebetulan hidup yang justru memiliki makna. "Synchronicity was a causal principle in the universe," kata Jung dalam karyanya Synchronicity, (New York, 1960).

Synchronicity sebagai prinsip tanpa sebab di alam semesta ini, merupakan sebuah hukum yang dapat menggerakkan manusia ke arah pertumbuhan kesadaran baru yang jauh lebih besar. Dalam proses sinkronisitas itu manusia memang merasakan adanya suatu realitas berkenaan dengan beroperasinya "kekuatan spiritual" dalam kehidupannya. The Celestine Prophecy bahkan menyebut "doa kita kepada Tuhan, akan dijawab dengan kebetulan itu". Sungguh aneh bin ajaib. Tetapi, ini betul-betul nyata.

Petualangan spiritual ke Shambhala memang sarat koinsidensi, sinkronisitas, untuk menemukan wawasan spiritual kesebelas. Ternyata, ini yang membuat saya terkagum-kagum, wawasan spiritual yang kesebelas di era millenium ketiga ini, justru extending our prayer fields.

Bukankah itu pesan perenial semua agama yang selama ribuan tahun telah menjadi jalan hidup spiritualis di Shambhala? Kita pun akhirnya sadar, betapa tepatnya Redfield menyajikan wawasan spiritual yang kesebelas ini, prayer fields, dengan gaya petualangan spiritual ke Shambhala.

Sampai di sini, novel spiritual itu memasuki wilayah agama. Seperti The Call of Shambhala yang menjadi bagian kedua novel ini, justru menekankan adanya One Reality, Satu Realitas yang menjadi sumber awal dan akhir dari semua agama. "There is only one divine source," itulah pesan Shambhala yang sebenarnya menjadi pangkal keimanan setiap penganut agama selama ini di satu sisi, dan sekaligus menjadi titik temu agama-agama pada tingkat mistik-spiritual.

Yang terakhir ini banyak ditemukan dalam berbagai literatur Shambhala. Bhagavan Das, pemikir India era 1930-an, misalnya, sudah mematangkan konsep the essential unity of all religions". Fritjof Schuon, filsuf perenialis yang pemikirannya khas Shambhala, malah menulis buku The Transcendent Unity of Religions (1975).

Karena itu tepat sekali kesimpulan Redfield bahwa petualangan spiritual ke Shambhala itu sejatinya merupakan praktik spiritual otentik (prayer) yang mempertemukan semua penganut tradisi esoteris agama-agama. Shambhala, kata Redfield adalah the synthesis of all religions, sintesa agama-agama. (Sukidi)