Selasa, 27 Januari 2009

Bagaimana Imajinasi Dapat Merusak atau Membangun Masa Depan

* Oleh : H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D

Banyak kini pendapat orang mengenai cetusan pikiran yang bersumber pada nuansa negatif ataupun positif. Hal seperti ini tergantung dari pengaruh lingkungan yang kita percayai atau yang dikembangkan pada diri sendiri. Didalam hal ini, tidak banyak orang yang mengetahui dengan pasti, bahwa apapun yang ditimbulkan dari sumber nuansa pikiran, akan dapat mengadakan effek NYATA.
Pada banyak riset yang menyangkut cetusan pikiran manusia, terungkap bahwa bentuk gambaran yang timbul sebagai hasil dari cetusan yang dikembangkan, memberikan produksi suatu kenyataan. Kenyataan seperti yang dihasilkan itu, pada kebanyakan orang tidak diperhatikan dengan ke-waspada-an tuntas. Inilah yang menjadi suatu produksi dari imajinasi tadi.

Orang yang sangat sibuk, serta harus menghadapi banyak hal yang harus diperhatikan, tidak mungkin melaksanakan konsentrasi atau fokus pada performa berfungsinya Otak. Segala sesuatu telah menjadi refleksi dari cara penanggapan yang telah dibiasakan berkembang didalam dirinya.
Kebiasaan itulah yang kadangkala dapat menjerumuskan kita kearah yang negatif atau mendorong kita kearah sebaliknya atau positif. Apakah hal yang penulis ungkapkan ini pernah diperhatikan benar oleh para pembaca ? Bila semua orang mempunyai keterampilan untuk selalu memperhatikan cetusan pikiran yang menjadikan tindakan, maka apapun yang akan mempunyai nuansa negatif akan dapat dicegah dan diarahkan atau dirubah menjadi positif.

Bila cara seperti yang dibentangkan itu, dapat diperhatikan dengan tuntas, maka masa depan kita akan jauh lebih produktif, membangun dan cerah. Apakah yang dapat kita laksanakan untuk mencapai hal itu, akan terletak didalam kesanggupan serta sikap kita terhadap diri sendiri yang adalah SUMBER dari semua rangkuman cetusan pikiran yang bertaburan sebagai vibrasi yang menggetarkan substansi pembawa getaran vibrasi itu didalam atmosfir dimana manusia berada.

Kita sebenarnya terperangkap didalamnya dan bila tidak mempunyai kemampuan suatu PENGENDALIAN diri yang efektif dan tuntas, maka bagaimanapun, kita akan terseret oleh bentuk vibrasi-vibrasi yang berada didalam atmosfir tersebut. Bisakah para pembaca menangkap penjelasan yang sedang dibentangkan ini ?

Kita tidak akan mampu untuk meneliti dengan rinci semua masukan dengan bentuk apapun, yang sedang melanda diri kita. Kemahiran serta keterampilan dalam meneliti atau mengontrol akibat dari masukan, yang sedang melanda itu, dapat diperoleh serta dipelajari dengan suatu system yang telah memberikan bukti-bukti imperis bahwa hal pengendalian cetusan pikiran itu memang dapat dikuasai. Penguasaan itu harus dilaksanakan melalui konsentrasi pada pengetahuan akan ampuhnya IMAJINASI terhadap diri sendiri. Dan hal ini merupakan lagi-lagi suatu PEMBIASAAN untuk memberikan keterampilan atau ?skill? yang efektif dan positif pada segala bentuk tindakan yang akan diaktifkan.

Meneliti semua tindakan yang akan dilaksanakan dalam sehari-hari, memang secara umum akan tidak semudah dibentangkan. Seakan kita akan menjadi lamban karena memerlukan waktu tertentu didalam hal mengontrol dan pelaksanakannya. Tapi sudah tentu hal itupun akan tergantung dari suatu KONDISI Alam Pikiran atau MIND, bukan ? Semua tindakan bersumber pada pengontrolan Mind tadi. Kontrol itu memerlukan penguasaan dari sumber cetusan pikiran yang dapat dipelajari dengan tuntas sekali, bukan dari bentuk penguasaan yang timbul tenggelam, tapi yang selalu siap siaga dan tersedia setiap saat dibutuhkan.

Penulis akan memberikan suatu dasar teknik yang setiap pembaca dapat melaksanakan melalui pengendalian tidur. Segala bentuk sifat yang telah kita jadikan didalam diri kita adalah pengaruh yang ditimbulkan sebagai hasil penerimaan atau akseptasi kita yang menyangkut masukan yang ditangkap bagian Otak yang berfungsi pada saat kita sedang bangun sadar, yaitu Otak bagian Kiri.

Buatlah secara tertulis terlebih dahulu bentuk GAMBAR yang kita inginkan dengan nuansa positif, Gambaran ini jangan dipusatkan pada diri sendiri, misalnya kaya sendiri, makmur sendiri dan lain tindakan yang mementingkan diri sendiri. Bentuklah gambaran yang mengikut sertakan orang lain, sesama kita diluar keluarga. Misalnya orang-orang yang miskin atau mereka yang didalam kondisi hidup yang tidak dapat dikatakan LAYAK.

Membentuk gambaran yang ditulis ini merupakan dasar dari pegangan kita, supaya bentuk tadi tidak akan berubah-ubah, tapi akan menetap seperti yang kita karang. Ciptaan penggambaran kita tersebut akan menjadi masukan bagi Otak bagian Kanan dan akan direkam sebagai yang diangankan itu. Tanpa mengadakan tulisan SKENARIO, maka penggambran imajinasi akan bisa berubah-ubah, sehingga akan mengaburkan fokus yang diperlukan bagi pelaksanaannya oleh bagian Otak tersebut melalui pengelolaannya pada kondisi bawah sadar. Inilah yang dinamakan PROGRAMMING.

Pengelolaan bentuk gambar inilah yang membawakan kita pada hal-hal yang bisa negatif ataupun positif menurut nuansa yang kita sendiri masukkan melalui tulisan tadi. Inilah yang merupakan ketentuan yang tak dapat diabaikan atau dianggap remeh. Hasilnya akan selalu sesuai dengan ketentuan yang telah kita buat sendiri serta berdasarkan kejelasannya. Penulis sendiri telah melaksanakannya mulai 25 tahun silam, dan pengalaman yang diperoleh memberikan kepercayaan yang mendalam, bahwa imajinasi merupakan dasar yang sangat efektif pada konstruksi masa depan.

Sudah tentu, kita mempunyai banyak sekali angan-angan atau cita-cita. Demikian banyaknya, sehingga akan sukar untuk melaksanakan secara rinci atau detil. Ketahuilah bahwa rincian apapun dari angan-angan kita termasuk didalam suatu bingkisan yang sesuai dengan angan-angan tersebut. Didunia ini, kita tidak dapat hidup dan beraktivitas sendiri. Kita membutuhkan peran orang lain yang caranya harus tidak mengadakan penganiayaan, tapi justru menariknya didalam kegiatan gambaran kesejahteraan kita itu. Penulis harapkan ungkapan ini dapat dimengerti serta difahami oleh para pembaca.

Imajinasi yang lengkap inilah yang akan dibawa tidur dan direkam oleh bagian Otak yang tak terbius didalam tidur, yaitu Otak bagian Kanan tadi. Bila apa yang diuangkapkan itu dilaksanakan secara rutin, maka melalui suatu pengelolaan yang tintas dan sesuai dengan RENCANA BESAR dari MAHA PENCIPTA kita dapat menuju kepada tugas yang memang sudah diperuntukkan bagi setiap manusia.

H.Rd. Lasmono Abdulrify Dyar Dipl.Sys.Ing., Ph.D adalah Guru Besar dan Direktur Metode Silva Untuk Indonesia, yang berpusat di Laredo - Texas - United States of America

Aku Tak Mencintaimu

Pablo Neruda

Aku tak mencintaimu seolah kau serbuk-mawar, atau permata, atau panah anyelir yang menyalakan api. Aku mencintaimu karena kau sungguh gelap untuk dicintai, dalam rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu karena kau tanaman yang tak pernah mekar tetapi cahaya bunga-bunga tersembunyi di dalam dirimu; terima kasih bagi cintamu suatu aroma padat, keluar dari tanah, hidup kental di tubuhku.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana. Aku mencintaimu lurus-langsung, tanpa kerumitan atau kebanggaan; demikianlah aku mencintaimu karena tak tahu harus bagaimana

beginilah: jika aku tiada, begitu juga kau, begitu dekat tanganmu di dadaku adalah tanganku, begitu dekat matamu terpejam saat aku tertidur.
Diterjemahkan oleh; Eka Kurniawan
23 Mei 2001 - 02:31

Shambala Pengalaman Spiritual Lintas Agama


Oleh Sukidi


"...If we belong to God,
God belongs to us;
we are in a relationship.
This is mysticism of course,
but any one of us can experience it daily. God is related to us in a personal way..."
(David Steindl-Rest
with Thomas Matus, in Fritjof Capra,
Belonging to the Universe, 1991).


"Mystical identification transcends
the aristocratic virtue courageous
self-sacrifice.
It is self-surrender
in a higher, more complete,
and more radical form.
It is the perfect of self-affirmation."


(Paul Tillich, The Courage to Be, 1952).

SHAMBHALA sebagai refleksi pengalaman spiritual? Inilah disclosure baru, yang tak saja menajamkan aspek teoretis Shambhala, tetapi juga menyingkap the heart of Shambhala sebagai spiritual experience. Pengalaman ini diharapkan dalam menjadi life style manusia era milenium ketiga ini yang bersandar pada kearifan dan kebijakan hidup model Shambhala.


Wawasan teoretis Shambhala

Dalam pegunungan dekat Tibet yang diselimuti salju terdapat komunitas suci yang sudah lama dipikirkan "orang" sebagai "mitos." Mitos yang telanjur menjadi "utopia" legendaris komunitas Tibet. Legenda adanya pusat kearifan paradise, kebijaksanaan abadi dan universal, yang menjadi tempat suci spiritualis, khususnya Buddhis, Taois, spiritualis Hindu dan Shamanisme. "There is not even a sign of nonvirtue or evil in these lands," begitu ditegaskan spiritualis Garje K'am-trul Rinphoce dalam A Geography and History of Shambhala, 1974.

Betul, jangankan kejahatan, kosa kata perang dan permusuhan pun tak dikenal. Yang hidup dalam keseharian hanyalah kebahagiaan, keharmonisan, dan kearifan. Inilah the place of peace, of tranquillity, yang bernama Shambhala (Sansekerta, Asia); Aryavarsha (Hindu); Hsi Tien (Cina); Belovodye (Rusia Kuno); Janaidar (Kirghiz). Di Barat, kebanyakan orang lebih mengenalnya Shangri-la, "mitos surga" yang diabadikan novelis James Hilton dalam Lost Horizon dan filmnya.

Sebagai the place of peace, Shambhala secara eksternal sesuai tradisi Buddha di Tibet, ditafsirkan sebagai a geographic location, lokasi geografis yang menjadi sumber inspiratif Sang Buddha dalam mengajarkan Kalachakra Tantra. Kitab klasik ini mengupas misteri Shambhala. Dalam mitologi Pon (kepercayaan asli orang Tibet), diceritakan lokasinya di Central Asian Kingdom yang dipercayai menjadi sumber dan pusat energi spiritual. Saking indahnya Shambhala, spiritualis Andrew Tomas menamai judul bukunya Shambhala: Oasis of Light (London, 1976). "Shambhala is a center of high evolutionary energies in Central Asia," begitu juga dikukuhkan Rene Guinon dalam bukunya The Lord of the World (UK, 1983).

Shambhala pun lantas menjadi simbol keharmonisan hidup dengan jalan spiritual. Chugyam Trungpa, spiritualis yang otoritatif menyingkap tabir Shambhala menyebutnya "authentic spiritual practice", praktik spiritual yang otentik, yang telah ribuan tahun lamanya menjadi jalan hidup para spiritualis dan mistikus.

Pengalaman spiritual lintas agama

Jalan spiritual dimaksud, sudah ditemukan Redfield sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala (1999), yakni prayer fields, core sejati Shambhala yang menjadi pengalaman spiritual lintas agama. Bukankah prayer fields, sekali lagi, menjadi pesan perenial semua agama?

Dalam agama Buddha, misalnya, prayer fields adalah hakikat Shambhala itu sendiri, yang menjadi kodratnya Buddha, yang karenanya diekspresikan dengan meditasi sebagai pengalaman spiritual. "Meditation is the method of realizing, or reflectively considering, a religious truth in order to arrive at a personal understanding and love for what it signifies." Tepat jika agama Buddha menjadikannya sebagai the Heart of Buddhist Meditation. Ini karena kata kunci meditasi dapat membuka kesadaran hati untuk mengalami apa yang oleh Maharishi Mahesh Yogie (1958) dinamakan transcendental meditation. Puncak meditasi yang membuat spiritualis Buddha mengalami great relaxation, inner peace, enhanced vitality and creativity. Inilah model spiritual adventure khas Shambhala dalam agama Buddha, yang mempraktikkan prayer fields dengan jalan meditasi sebagai pengalaman spiritual.

Prayer fields, yang menjadi core Shambhala sebenarnya juga merupakan model pengalaman spiritual dalam tiga agama semitik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Bukankah tafsiran mudahnya prayer adalah doa itu sendiri, yang selama ini menjadi tradisi spiritual penganut ketiga agama besar itu?

Spiritualis Yahudi, misalnya menghayati Cabala sebagai sistem pengalaman spiritualnya. Dan menjadi rahasia umum pula, bahwa bangsa Yahudi selalu merasakan sebagai the experience of feeling chosen. Juga spiritualis Kristen, baik Katolik maupun Protestan, meyakini the true devotional, dan the idea of Holy Spirit sebagai pengalaman spiritual yang mencerahkan batin. Hal itu tidak saja merupakan peningkatan kesadaran diri sebagai bagian dari Tuhan, tetapi juga meningkatkan pengalaman diri sebagai a higher self. Itulah sebabnya, spiritualis Kristen meyakini Yesus Kristus yang merupakan bentuk perwujudan dari "Kehadiran" Yang Ilahi sebagai jalan keselamatan bagi orang-orang Kristen.

Sebagai Muslim, prayer fields, yang menjadi core Shambhala, tak lain dan tak bukan adalah doa itu sendiri yang sudah lama dipraktikkan seorang Muslim. Dalam shalat, zakat, puasa, dan haji, setiap Muslim selalu berdoa kepada Allah. Begitu pula dalam aktifitas keseharian, Muslim selalu diperintahkan untuk mengawali aktivitasnya dengan doa. Dan jangan kaget jika belakangan ini, mayoritas Muslim sedang meningkat pesat dalam tasawuf sebagai spiritual healing (Robert Peel) dan the faith healing (Claude Frazier). Katanya, "faith healing is the cure or relief of physical or mental ills by prayer or religious rituals," begitu rumusan pemikiran yang khas Shambhala Claude Frazier dalam Faith Healing: Finger of God? Or Scientific Curiosity? (1973).

James Redfield, pencetus prayer fields sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala, berkesimpulan: "each religion emphasized different aspects of this mystical interaction with God." Jadi, pengalaman spiritual lintas agama seperti dipaparkan di atas, hanyalah beda penekanannya saja, dalam konteks interaksi-spiritual dengan Tuhan. Tetapi, pada tingkat esoteris (kata Huston Smith), esensial (kata Baghavan Das), atau transenden (kata Fritjof Schuon), semua agama mengalami titik temu, yang dalam The Secret of Shambhala disebut-sebut Redfield sebagai One Reality, dan One Divine Source.

Secara jenius Redfield melanjutkan kesimpulannya: "the integration of all religious truth is important if the force of prayer-energy is to grow large enough to resolve the dangers posed by those who fear." Sungguh liberal! Ternyata, titik temu agama-agama yang diekspresikan dalam pengalaman spiritual lintas agama menjadi penting manakala kekuatan energi doa meningkat cukup pesat untuk mengatasi bahaya dan ketakutan eksistensial yang seringkali menghantui keseharian hidup kita.

Prayer, pada akhirnya mengingatkan saya pada Ibu Teresa dalam ungkapan bijaknya, "prayer in action is love, and love in action is service." Suatu mutiara bijak khas Shambhala, yang langka di tengah kebisingan dunia modern dewasa ini. Kemudian saya membayangkan, jika setiap manusia di planet Bumi ini tercerahkan dengan keinsyafan spiritual, dengan prayer field yang menjadi core Shambhala dan pesan suci semua agama, maka saya sedang menyaksikan lahirnya generasi baru yang dalam manuskrip The Celestine Vision disebut-sebut sebagai Spiritual Being of Lights. Prototipe makluk spiritual yang tercerahkan, bersifat rohani-spiritual, dan karenanya, mengalami keselerasan dan keharmonisan hidup.


* Sukidi, staf Dubes RI di Oslo, alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Ciputat, e-mail; Sukidioslo@hotmail.com.

Petualangan Spiritual ke Shambhala


The Secret of Shambhala; In Search of the Eleventh Insight, James Redfield (Warner Books, New York, November 1999) xi + 238 hlm.


--------------------------------------------------------------------------------

PETUALANGAN spiritual ke Shambhala? Inilah gaya James Redfield mengemas novel spiritualnya The Secret of Shambhala, suatu kemasan yang tak saja mengusik kesadaran keimanan kita yang telanjur mapan, tetapi juga membuat kita terkagum-kagum seraya berteka-teki apa itu Shambhala? Hadirkah ia secara fisik atau sekadar mitos belaka? Dan bagaimanakah isi pencarian wawasan spiritual kesebelas dalam petualangan spiritual ke Shambhala?

Melalui kejelian membidik inti novel spiritual yang sarat percakapan antarsubjek (Bill, Natalie, Yin, Wilson James, Ani, Hanh, dll) dan obyek (Kathmandu, Nepal, dan Lasha di Tibet), maka tersingkaplah misteri Shambhala.

Awal pencarian Shambhala yang diceritakan Redfield, dimulai dengan kata-kata seorang anak perempuan bernama Natalie, 14 tahun umurnya. "She has some information about a place you would be interested in. Some location in the north of Tibet?" begitu novel ini dimulai, mengundang tanda tanya apa gerangan misteri di Tibet itu.

Bayangkan saja, konsentrasi pikiran kita tersedot pada petualangan spiritual ke Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju, sambil intuisi kita menerawang kota suci yang bertebaran intan dan permata di mana hidup komunitas suci ribuan tahun lamanya dengan penuh keselarasan. Shambhala-kah itu? Ya, sesuai tradisi spiritual di Tibet.

Konon, ia memang benar-benar ada secara fisik, terletak di kawasan utara Tibet (Cina). Hanya saja belakangan ini spiritualis Buddha rupa-rupanya meliput Shambhala hanyalah sebagai representasi "a spiritual state of mind," bukan tempat yang nyata (Lihat: Shambhala, Pengalaman Spiritual Lintas Agama). Nah, sebagai a spiritual state of mind, Shambhala pun menjadi cara/jalan hidup bagi para spiritualis dan mistikus.

Mereka itu selalu mengajarkan tentang pandangan dan sikap hidup yang harmonis, selaras, bermakna, dan sarat keinsyafan spiritual. Itu pula sebabnya kenapa Taoisme di Cina begitu fenomenal di kalangan spiritualis.

Ia memang mengartikulasikan pesan Shambhala: sikap hidup yang arif dan bijak. Persis seperti yang dipopulerkan Marc de Smedt (1996) sebagai The Wisdom of Tao. Suatu kebijakan hidup model Taoist-spiritualis yang menjadi hakikat Shambhala.

Maka, jika novel ini diletakkan dalam kerangka "a spiritual state of mind" yang menjadi hakikat Shambhala, di sinilah kita dapat menangkap pesan sejati petualangan spiritual ke Shambhala. Karena, Redfield menjadikan The Secret of Shambhala hanyalah sebagai "sarana pencarian wawasan kesebelas" sebagaimana isi anak judul buku itu. Suatu pencarian wawasan spiritual yang kesebelas yang tak kunjung usai. Dan memang, bukankah pencarian dan petualangan spiritual itu sendiri tak akan pernah usai?

Bayangkan saja, novel The Celestine Prophecy yang diluncurkan Redfield tahun 1993 (yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Manuskrip Celestine) dengan sajian sembilan wawasan spiritual, ternyata laku keras di pasar Amerika. Sesuai info terakhir dalam sampul belakang buku ini, sudah 8,5 juta salinan terjual habis di lebih dari 35 negara. Sungguh luar biasa, dan kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja! Dari hanya sembilan wawasan spiritual dalam Manuskrip Celestine, ternyata menyedot perhatian publik, utamanya generasi baru (New Age) yang bosan dengan kebisingan dunia modern dewasa ini.

Lebih-lebih sejak Redfield meluncurkan sepuluh wawasan (spiritual) dalam The Tenth Insight: Holding the Vision (1996), novel The Celestine Prophecy bersama The Tenth Insight langsung ngetop menjadi bestseller selama 74 minggu di daftar buku terlaris New York Times, AS. Ini membuat Redfiled menjadi terkenal.

Pertama, ia terpilih sebagai penulis bestseller hardcover di dunia pada tahun 1996, sebagaimana disiarkan BP Report 13 Januari 1997. Dan kedua, Redfield pun memperoleh penghargaan tertinggi yang diberikan Senat Italia pada Konferensi Internasional ke-23 Pio Manzu di Rimini, Italia, Oktober 1997. Sebagai informasi, Pio Manzu adalah organisasi non-pemerintah di bawah naungan PBB yang diketuai mantan Presiden Uni Soviet, Mikhel Gorbachev.


***
SEKARANG pertanyaannya adalah kenapa publik begitu antusias menyambutnya? Di samping berkat genuisitas dan otentisitas wawasan spiritual Redfield, publik juga sedang mengalami apa yang oleh Rederic dan Mery Ann Brussat disebut gejala "kemelekan spiritual". Dalam pembukaan buku antologinya Spiritual Literacy; Reading the Sacred in Everyday Life (1996), penulis itu mengatakan hidup ini adalah petualangan suci. Persis gaya petualangan spiritual ke Shambhala dalam buku ini.

Itulah sebabnya ketika terdengar kabar manuskrip Celestine kuno itu ditemukan, apalagi disajikan Redfield dengan gaya petualangan-ibarat drama-drama horor-yang berlangsung di Peru, antusiasme mereka makin menjadi-jadi. Maklum, manuskrip itu sengaja dikemas Redfield dengan sajian wawasan spiritual yang genuine yang selama ini digandrunginya.

Sesuai transkrip The Celestine Insight dalam Jurnal Celestine, sepuluh wawasan spiritual itu meliputi A Critical Mass, The Longer Now, A Matter of Energy, The Struggle for Power, The Message of the Mystics, Clearing the Past, Engaging the Flow, The Interpersonal Ethic, The Emerging Culture, and Holding the Vision.

Kesepuluh wawasan itu sebenarnya berujung menuju pencerahan spiritual tulen. Sayang, untuk menuju ke situ kadang penuh lika-liku kehidupan, bahkan sarat pengalaman misterius. Bayangkan, manuskrip yang berisi wawasan kehidupan itu malah dituangkan Redfield sebagai ceritera petualangan, ibarat drama-drama horor yang berlangsung di Peru.

Bukankah itu benar-benar misterius? Lebih misterius lagi, A Critical Mass yang menjadi wawasan pertama manuskrip itu justru menceritakan berkembangnya suatu kesadaran di antara individu-individu dalam kelompok massa yang kritis, yang mulai menyadari bahwa hidup ini adalah suatu perjalanan "kosmis" yang sarat dengan "kebetulan-kebetulan hidup secara misterius".

Psikolog Carl Gustav Jung menyebut hal itu sebagai synchronicity, yakni persepsi mengenai hal-hal kebetulan hidup yang justru memiliki makna. "Synchronicity was a causal principle in the universe," kata Jung dalam karyanya Synchronicity, (New York, 1960).

Synchronicity sebagai prinsip tanpa sebab di alam semesta ini, merupakan sebuah hukum yang dapat menggerakkan manusia ke arah pertumbuhan kesadaran baru yang jauh lebih besar. Dalam proses sinkronisitas itu manusia memang merasakan adanya suatu realitas berkenaan dengan beroperasinya "kekuatan spiritual" dalam kehidupannya. The Celestine Prophecy bahkan menyebut "doa kita kepada Tuhan, akan dijawab dengan kebetulan itu". Sungguh aneh bin ajaib. Tetapi, ini betul-betul nyata.

Petualangan spiritual ke Shambhala memang sarat koinsidensi, sinkronisitas, untuk menemukan wawasan spiritual kesebelas. Ternyata, ini yang membuat saya terkagum-kagum, wawasan spiritual yang kesebelas di era millenium ketiga ini, justru extending our prayer fields.

Bukankah itu pesan perenial semua agama yang selama ribuan tahun telah menjadi jalan hidup spiritualis di Shambhala? Kita pun akhirnya sadar, betapa tepatnya Redfield menyajikan wawasan spiritual yang kesebelas ini, prayer fields, dengan gaya petualangan spiritual ke Shambhala.

Sampai di sini, novel spiritual itu memasuki wilayah agama. Seperti The Call of Shambhala yang menjadi bagian kedua novel ini, justru menekankan adanya One Reality, Satu Realitas yang menjadi sumber awal dan akhir dari semua agama. "There is only one divine source," itulah pesan Shambhala yang sebenarnya menjadi pangkal keimanan setiap penganut agama selama ini di satu sisi, dan sekaligus menjadi titik temu agama-agama pada tingkat mistik-spiritual.

Yang terakhir ini banyak ditemukan dalam berbagai literatur Shambhala. Bhagavan Das, pemikir India era 1930-an, misalnya, sudah mematangkan konsep the essential unity of all religions". Fritjof Schuon, filsuf perenialis yang pemikirannya khas Shambhala, malah menulis buku The Transcendent Unity of Religions (1975).

Karena itu tepat sekali kesimpulan Redfield bahwa petualangan spiritual ke Shambhala itu sejatinya merupakan praktik spiritual otentik (prayer) yang mempertemukan semua penganut tradisi esoteris agama-agama. Shambhala, kata Redfield adalah the synthesis of all religions, sintesa agama-agama. (Sukidi)

Senin, 26 Januari 2009

Pergilah Ke Mana Hati Membawamu

”… Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.”
Dan kelak. di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kauambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,s eperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatiamu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkan hatimu.Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,dan pergilah ke masa hati membawamu...

Ada yang tidak berubah dalam kehidupan seorang perempuan sejak dulu. Penghayatan atas kehidupan dan cinta, pengetahuan masa lalu, dan pemahaman diri sendiri. Semua ini akan membuat kehidupan perempuan sarat makna. Olga, sang nenek, telah melewati semua itu dan menemukan dirinya sendiri.
Kini, dapatkah ia menjembatani jurang generasi yang demikian dalam dan meraih hati cucunya, membuatnya mengerti bahwa untuk membuat hidupnya berarti, ia harus pergi kemana hatinya membawanya?

Novel karya Tamaro ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Kompas. Bergaya naratif, novel ini agak berbeda dengan novel populer yang biasa aku baca. Terus terang, biasanya, gaya narasi agak membosankan aku. Tapi saat membaca karya Tamaro ini aku bahkan penasaran bagaimana Olga akan menuliskan seluruh kisah hidupnya untuk cucunya yang meninggalkannya sendirian untuk pergi ke Amerika.
Pembohong, itu bisa jadi judul otobiografiku, kata Olga. Tapi, untuk apa mengaku? Untuk apa menanti kejujuran? Orang sering tidak peduli pada pengakuan seseorang bahkan tidak mau tahu alasan mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu. Jadi untuk apa mengaku? Mengapa harus jujur? Bagaimana jika ia hanya membuat luka yang baru?
Kejujuran memang tidak sesederhana itu. Kejujuran memerlukan wilayah dimana orang saling percaya (Pengantar, hal. 15). Tapi itulah perjuangan Olga. Bagaimana dia akan menuliskan hal-hal yang amat peka yang menyangkut hubungan-hubungannya di masa lalu, dengan cucunya dan dengan orang-orang lain. Rahasia yang belum siap ia nyatakan tapi pernah terlontar tanpa sengaja. Pengakuan yang ia percaya pernah membuat putrinya, Ilaria, sangat terluka karena kejujuran yang begitu saja terbuka.
Olga sangat ingin dipahami, terutama oleh cucunya. Belas kasih, katanya, bukan sikap mengasihani! Bagaimana pun, dia harus membuka kartu, bercerita tentang penderitaannya sebagai perempuan di tengah keluarganya, perkawinannya dengan Augusto untuk mengikuti tradisi, cinta sejatinya pada Ernesto yang tak pernah dia ragukan tapi tentu saja tidak mudah ditunjukkan, dan tentang Ilaria putrinya, sang pemberontak feminis radikal, serta tentang semua kenangan hidup indah bersama cucunya.
Membaca novel ini aku merasakan cinta seorang nenek, lebih tepat seorang perempuan. Pada dunia yang sangat patriarkis, pengakuan Olga adalah juga pengakuan perempuan. Kekhawatiran dan harapan seorang perempuan.
Akhirnya dengan menuliskan pengakuannya ini, Olga berharap mencapai rekonsiliasi dengan cucunya (dan terutama dengan dirinya). Perubahan paling penting pertama yang harus dilakukan ada di dalam dirimu sendiri. Begitu Olga bilang. Berjuang untuk suatu gagasan tanpa terlebih dahulu mengenal dirimu sendiri adalah hal paling berbahaya yang bisa dilakukan manusia.

Judul : Pergilah Ke Mana Hati Membawamu (Judul asli: Va dove Ti Porta il Cuore)
Penulis : Susanna Tamaro
Katagori : Fiksi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2004

Syamsul Ma’arif al-Kubra, Kosmologi Islam Klasik

"setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya"
ISENG-iseng, saya menemukan situs menarik, yaitu Scribd yang memuat buku-buku on-line gratis. Di sana, secara tak sengaja, saya menemukan sebuah buku yang menarik, yaitu Syamsul Ma’arif al-Kubra karangan Syekh Ahmad Ali al-Buni. Waktu saya masih di pesantren dulu, ini semacam “buku suci” dengan aura yang sangat misterius.
Persepsi populer di kalangan pesantren saya dulu, buku ini adalah semacam “primbon” yang berisi ilmu “kanuragan” atau ilmu sakti-mandraguna. Memang ada banyak pembahasan dalam buku itu yang menyangkut ilmu kesaktian. Tetapi, itu bukan satu-satunya isi buku tersebut.
Sekedar catatan ringan saja: oleh pemerintah Arab Saudi, buku ini masuk dalam daftar buku cekal, karena dianggap mengandung unsur syirik. Pemerintah Saudi bisa saja bisa mencekal buku ini saat dibawa oleh seseorang lewat bandara. Tetapi, bagaimana pencekalan itu bisa diterapkan saat buku tersebut sekarang beredar lewat internet? Dengan kata lain, ideologi “cekal” menjadi susah ditegakkan di zaman teknologi internet sekarang.
Buku ini sebetulnya menarik bagi mereka yang ingin mempelajari kosmologi Islam klasik yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Pythagoras. Salah satu pembahasan utama buku ini adalah mengenai ciri-ciri semua huruf dan “khasiat spiritual” yang ada di baliknya. Ini merupakan ilmu rahasia yang dalam masa klasik Islam pun dipelajari secara sembunyi-sembunyi.
Dalam kosmologi itu, setiap huruf abjad berhubungan dengan planet atau obyek astronomis tertentu di alam raya. Huruf bukan semacam “pananda” (signifier) yang arbitrer dan melayang-layang bebas tanpa makna orisinal tertentu, sebagaimana kita kenal dalam filsafat strukturalisme. Huruf juga bukan seperti mantra yang tak memuat beban makna apapun, seperti pernah didakwahkan oleh Penyair Sutardji Calzoum Bahri melalui manifestonya yang terkenal itu.
Dalam kosmologi Islam seperti tampak dalam buku Syekh al-Buni ini, huruf (juga angka) memiliki hubungan “misterius” yang sifatnya niscaya dengan dunia “atas” (al-’alam al-’ulwi). Tak ada yang sifatnya arbitrer dalam kehidupan ini, termasuk kode-kode bahasa yang mewakili gagasan.
Bab pertama buku ini, misalnya, berbicara tentang huruf-huruf alfabet dan rahasia serta makna yang tersimpan di dalamnya (fi al-huruf al-mu’jamah wa ma fiha min al-asrar wa al-idhmarat). Dunia dan alam raya, dalam pandangan Syekh al-Buni, adalah semacam “universum” yang saling terkait satu dengan yang lain.
Ada dunia atas (al-’alam al-’ulwi) dan dunia bawah (al-’alam al-sufli). Dunia atas, dalam istilah dia, men-supply dunia bawah, wa inna al-’alam al-’ulwi yumiddu al-’alam al-sufli. Huruf-huruf adalah representasi dari dunia atas. Memahami rahasia huruf dan angka akan membawa seseorang untuk memahami “alam lain”. Bandingkan hal ini dengan gagasan Bonaventura, seorang teolog dan santo dari Abad 13, sebagaimana tergambar dalam risalah dia yang terkenal, Itinerarium Mentis ad Deum, yakni perjalanan akal atau jiwa menuju Tuhan.
Dengan menguasai rahasia huruf dan angka, seseorang bisa memanipulasi dunia yang tak tampak. Sekilas, ada semacam hubungan yang sifatnya instrumental antara manusia dengan dunia spritual, antara dunia bawah dan dunia atas. Ini mengingatkan kita pada pengamatan Malinowski tentang “magic” sebagai bentuk lain dari “science” dalam masyarakat primitif: keduanya sebagai cara manusia untuk “mengatasi” alam yang tampak di permukaan sebagai “ketidakteraturan” (chaos) yang mencekam.
Ada sejumlah observasi yang menarik yang dikemukakan oleh al-Buni mengenai karakter huruf. Misalnya, menurut dia, ada dua jenis huruf. Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri; itulah huruf bangsa Arab. Kedua, huruf yang ditulis dari dari kiri ke kanan, yaitu huruf atau abjad bangsa Yunani, Romawi dan Koptik.
Huruf yang ditulis dari kanan ke kiri mempunyai karakter khusus, yaitu ditulis secara kursif (muttashilah); waktu saya masih kecil, sering disebut dengan huruf gandeng. Ini kita lihat dalam kasus huruf Arab. Sementara itu huruf yang ditulis dari kiri ke kanan, bersifat non-kursif alias terputus-putus.
Pengamatan ini, walau cermat, tentu mengandung banyak kelemahan. Sebagaimana kita tahu, abjad Latin yang ditulis dari kiri ke kanan bisa juga ditulis secara kursif. Semantara itu, tak semua huruf yang ditulis dari kanan ke kiri bersifat kursif seperti abjad Arab. Abjad Hebrew atau bahasa Yahudi ditulis dengan cara yang sama dengan abjad Arab, yaitu dari kanan ke kiri, tetapi ia tidak bersifat kursif.
Menurut Syekh al-Buni, jumlah huruf (maksudnya tentu huruf Arab) adalah 28, plus satu huruf lain, yaitu “lam alif“. Jika yang terakhir itu dimasukkan, maka jumlah keseluruhan adalah 29 huruf. Jumlah ini paralel dengan posisi rembulan terhadap matahari dalam waktu sebulan (al-manazil al-qamariyyah). Sebagaimana kita tahu, jumlah hari dalam kalender Hijriyah yang memakai sistem lunar adalah 29 hari, bukan 30 atau 31 hari seperti dalam kalender Gregorian yang memakai sistem solar.
Di sini, kita bisa melihat dengan baik sekali bagaimana hubungan antara huruf dengan sistem astronomis. Sekali lagi, huruf bukan kode arbitrer. Ia memiliki hubungan ontologis yang sifatnya “alamiah” dan niscaya dengan fenomena alam raya.
Ilmu yang termuat dalam buku ini bukanlah ilmu biasa, tetapi ilmu spesial yang hanya layak diketahui oleh kalangan tertentu. Al-Buni membuat semacam “pagar” tertentu agar buku ini tidak jatuh pada tangan yang tak tepat atau orang yang tak kompeten. Tak heran, buku ini, waktu saya di pesantren dulu, memiliki aura mistis yang membuatnya “angker”.
Dalam pembukaan buku ini, misalnya, Syekh al-Buni dengan tegas membuat semacam “disclaimer” berikut ini: haram bagi siapa saja yang mendapatkan naskah buku saya ini untuk memberi tahu kepada orang yang tak siap untuk menerima dan memahami isinya, atau menceritakan isi buku itu di tempat yang kurang layak.
Dalam tradisi Islam klasik, tampaknya terdapat suatu pandangan bahwa ada ilmu-ilmu tertentu yang harus disembunyikan dan hanya layak diberikan kepada orang-orang tertentu yang sudah memenuhi syarat tertentu. Pandangan semacam ini saya kira tidak hanya khas Islam, tapi juga ada pada beberapa masyarakat tradisional yang lain. Saya ingin menyebut hal ini sebagai “kosmologi mistis-feodal“.
Aura “kesucian” buku ini juga ditandai dengan beberapa hal lain. Dalam halaman yang sama, misalnya, Syekh Ali al-Buni mengatakan bahwa siapapun tak boleh “menyentuh “bukunya ini kecuali dalam keadaan suci (wa la tamussahu illa wa anta thahirun). Ilmu yang termuat dalam buku ini bukan ilmu normal, tetapi ilmu yang sangat khusus, dan karena itu harus diperlakukan secara khusus pula.
Yang menarik adalah Syekh al-Buni memakai isitilah “menyentuh”. Bagaimana istilah itu harus dipahami dalam konteks dunia digital? Teks buku al-Buni itu sekarang sudah berubah dalam bentuk file PDF yang melayang-layang secara bebas di dunia virtual. Apakah anda harus bersuci dulu saat mau membuka komputer untuk meng-akses data buku tersebut?
Penemuan mesin cetak Guttenberg dan teknologi digital saat ini telah mengubah konsep masyarakat tentang buku dan teks. Secara umum telah terjadi semacam “sekularisasi teks” melalui demokratisasi akses kepada buku. Aura kemisteriusan sebuh buku menjadi hilang sama sekali. Apakah ini bagian dari “hilangnya pesona dunia” (disenchantment of the world) seperti pernah disebut oleh Weber itu?
Kosomologi seperti tergambar dalam buku ini mungkin sudah tak dikenal lagi oleh kalangan santri atau umat Islam pada umumnya saat ini. Mereka tentu akan menganggap buku ini sebagai semacam “klenik” atau “superstition“. Kosmologi Kopernikan atau Newtonian lebih menarik bagi umat Islam sekarang. Dalam konteks kosmologi modern ini, buku seperti Syamsul Ma’arif al-Kubra sudah kelihatan aneh.[]

Spiritualitas "New Age "

SALAH satu trend ekspresif zaman post modern adalah ditandainya pergolakan sosial yang cepat. Namun, kita tak sekadar bersaksi atas progresivitas pergolakan sosial, kecanggihan teknologi post industri abad ini. Di sisi lain, kita dihadapkan seribu krisis kemanusiaan: mulai dari krisis diri, alienasi, depresi, stres, keretakan institusi keluarga, sampai beragam penyakit psikologis lainnya. Justru, jenis penyakit yang mengguncang diri kita di tengah situasi krisis dewasa ini, tak lain adalah hadirnya perasaan ketidaknyamanan psikologis. Ada semacam ketakutan eksistensial yang mengancam diri kita di tengah situasi krisis, sarat teror, konflik, dan kekerasan, sampai pembunuhan yang menghiasi keseharian hidup kita.

Di Barat, khususnya Amerika Utara, situasi krisis serupa, justru diiringi meningkatnya ketidakpercayaan pada institusi agama formal (a growing distrust of organized religion). Barangkali, ekstrimnya seperti dislogankan futurolog John Naisbitt bersama istrinya, Patricia Aburdene dalam Megatrend 2000, Spirituality Yes, Organized Religion No!.

Ada penolakan terhadap agama formal yang memiliki gejala umumnya sama saja: eksklusif dan dogmatis, sambil menengok ke arah spiritualitas baru lintas agama, yang menurut Majalah Newsweek (28 November 1994), jumlahnya fantastis: 58 persen responden dalam suatu survei, menunjukkan kegairahannya pada kebutuhan spiritualitas baru.

Inilah model generasi baru yang gandrung pada Spiritualitas New Age. Russel Chandler, mantan jurnalis agama pada Los Angeles Times, mengklaim, 40 persen orang Amerika percaya pada panteisme (kepercayaan yang berprinsip pada all is God and God is all), 36 persen percaya pada astrologi sebagai scientific, tepatnya percaya pada astrologi sebagai metode peramalan masa depan (a method of foretelling the future), dan 25 persen percaya pada reinkarnasi (lih. Chadler,
Understanding the New Age, 1988, hlm 20, 130-33).

Nah, fenomena keagamaan inilah yang menarik dipotret. Apa itu gerakan New Age berikut ciri khasnya? Bagaimana model praktik spiritual New Age di tengah eksistensi agama-agama besar selama ini? Benarkah spiritualitas New Age tampil sebagai alternatif keberagaman dewasa ini?

Gerakan "New Age"

Secara literal, New Age Movement adalah gerakan zaman baru, yang oleh Rederic dan Mery Ann Brussat disebut sebagai "zaman kemelekan spiritual". Ada semacam arus besar kebangkitan spiritual yang melanda generasi baru dewasa ini, terutama di Amerika, Inggris, Jerman, Italia, Selandia Baru, dan seterusnya. Ekspresinya beragam; mulai dari cult, sect,
New Thought, New Religious Movement, Human Potentials Movement, The Holistic Health Movement, sampai New Age Movement. Namun, benang merahnya hampir sama: memenuhi hasrat spiritual yang mendamaikan hati.

Hasrat spiritual inilah yang menjadi ciri khas New Agers (istilah New Agers ini relatif lebih lazim dipakai dalam konteks gerakan New Age, dibanding misalnya istilah New Age Adherents maupun New Age Believers). Sebagai a new revivalist religious impulse directed toward the esoteric/metaphysical/spiritualism..., hasrat spiritual New Agers yang secara praktis
adalah a free-flowing spiritual movement, terartikulasi ke berbagai manuskrip metafisika-spiritualitas (Manuskrip Celestine, baik The Celestine Prophecy maupun The Celestine Vision, Sophia Perennis yang menjadi filsafatnya New Agers, paradigma The Tao of... yang sangat ekspresif menjadi trend penerbitan judul buku-buku ilmiah dan populer, The Aquarian Conspiracy yang menjadi buku pegangan New Agers, hingga merambah ke "pendidikan spiritual" dan bahkan klinik-klinik spiritual dengan beragam variasinya.

Sebagaimana disinggung sepintas oleh Naisbitt dalam Megatrend 2000, In turbulent times, in times of great change, people head for the two extremes: fundamentalism and personal, spiritual experience... With no membership lists of even a coherent philosophy or dogma, it is difficult to define or measure the unorganized New Age movement. But in every major U.S. and European city, thousands who seek insight and personal growth cluster around a metaphysical bookstore, a spiritual teacher, or and education center.

Oleh karena itu, seperti sudah menjadi fakta yang tak terbantahkan adalah adanya gerakan masif dari generasi New Age yang selalu menyebut-nyebut dirinya sebagai flower generations, berkiblat pada mainstream spiritualitas, mulai dari kegemaran menyelami Manuskrip Celestine sampai mengalami apa yang menjadi tradisi spiritual New Agers sebagai spiritual gathering dengan berbagai variasi mistik-spiritualnya.

Gerakan yang dimulai di Inggris tahun 1960-an ini, antara lain dipelopori Light Groups, Findhorm Community, Wrekin Trust. Ia menjadi sangat cepat mendunia berskala internasional, terutama setelah diselenggarakan seminar New Age oleh Association for Research and Enlightenment di Amerika Utara, dan diterbitkannya East West Journal tahun 1971 yang
dikenal luas sebagai jurnalnya New Agers. Yang agak sensasional dari gerakan New Age ini adalah setelah disiarkan via televisi secara miniseri Shirley MacLaine Out on a Limb, bulan Januari 1987.

Spiritualitas "New Agers"

Ekspansi New Age menjadi populer dan fenomenal pada dasawarsa 1970-an sebagai protes keras atas kegagalan proyek Kristen dan sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan.

Pertama, di lingkungan gereja Kristen, misalnya, kita sulit menghapus ingatan masa lalu saat Gereja menerapkan doktrin extra ecclesiam nulla salus. No salvation outside the Church. Tidak ada keselamatan di luar Gereja. Bukankah ini cermin watak Gereja yang sarat claim of salvation? Bukankah claim of salvation tidak saja mengakibatkan sikap menutup diri terhadap kebenaran agama lain, tetapi juga berimplikasi serius terhadap konflik atas nama agama dan Tuhan. Karena itu, "keselamatan" itu tidaklah penting di kalangan New Age. Sebab, New Agers lebih percaya prinsip Enlightenment, di mana muncul kesadaran spiritualitas di kalangan New Age bahwa manusia dapat tercerahkan, menjadi sacred self, karena pada kenyataannya manusia adalah divine secara intrinsik (persis konsep fithrah dalam Islam). Paham inilah yang akhirnya menjadikan "pantheisme" begitu fenomenal di kalangan New Age.

Kedua, protes New Agers atas hilangnya kesadaran etis untuk menatap masa depan. Oleh karena itu, salah satu manuskrip terpenting yang menjadi wawasan etis New Agers dalam menatap masa depan adalah The Art of Happiness, New Ethic for the Milllenium karya Dalai Lama. Sebagai alternatif dari protesnya terhadap kegagalan gereja Kristen dan sekulerisme dalam menyajikan wawasan spiritual dan petunjuk etis menatap masa depan, maka New Agers menoleh pada spiritualitas baru lintas agama. Kita tahu, betapa New Agers begitu kuat berpegang pada prinsip spirituality: the heart of religion.

Oleh karena itu, New Agers sangat menghayati betul arti pentingnya monisme (segala sesuatu yang ada, merupakan derivasi dari sumber tunggal, divine energy), pantheisme (all is God and God is all, menekankan kesucian individu, dan karenanya proses pencarian Tuhan tidaklah melalui Teks Suci, tetapi justru melalui diri sendiri, karena God within our self), reinkarnasi (setelah kematian, manusia terlahirkan kembali, dan hidup dalam alam kehidupan lain sebagai
manusia. Mirip konsep transmigration of the soul dalam Hindu), dan seterusnya, seperti astrologi, channeling, pantheisme, tradisi Hinduisme, tradisi Gnostis, Neo-Paganisme, theosopi, karma, crystal, meditasi, dan seterusnya.

Tradisi spiritual New Agers lintas agama ini, tidak saja dapat mengobati kegersangan spiritual yang sekian lama hampa dari lingkungan agama formal, tetapi juga memberi muara kepada New Ages ke arah terwujudnya Universal Religion. Agama Universal, di mana ada proses awal kesadaran akan all is God and God is all yang menjadi sandaran doktrin Pantheisme, tetapi kemudian bergeser ke arah kesadaran spiritualitas New Age yang meyakini bahwa "hanya ada Satu Realitas yang eksis". Semua agama, begitu keyakinan New Agers, hanyalah sekadar jalan-jalan menuju kepada Satu Realitas yang menjadi ultimate reality dari semua pejalan spiritual (agama-agama).

* Sukidi, Alumnus Fakultas Syariah IAIN Ciputat.

Sumber: http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0006/30/opini/spir04.htm

Jumat, 23 Januari 2009

Kebetulan yang Bukan Kebetulan

Terkait dengan Komentar saya tentang Iklan Ucapan Ultah dari Golkar kepada Mega dan Tutu, yang saya katakan bukan sebuah kebetulan, berikut ada buku yang membahasnya pula...semoga bermanfaat...

''There's no accident'', demikian kata Sigmud Freud. Intinya, tak ada kebetulan murni di dunia ini. Setiap kebetulan adalah ''kebetulan yang bukan kebetulan''. Filosofi inilah yang coba diusung James Redfield lewat Celestine Prophecy. Redfield mengajak kita merasakan adanya energi Ilahi yang bekerja dan muncul lewat kebetulan-kebetulan. Inilah bukti bahwa alam semesta mendengar ketulusan doa tiap manusia dan membantu lewat serangkaian kebetulan.

Jauh sebelum konsep Law of Attraction dikemukakan Rhonda Byrne dalam ''The Secret'', Carl Gustav Jung sudah lebih dulu mengemukakan konsep sinkronisitas. Konsep Jung inilah yang tampak kental mewarnai trilogi novel Celestine Prophecy karya Redfield. Novel yang menjadi best seller di pergantian milenium itu telah menginspirasi banyak orang.

Di buku ini Redfield memaparkan landasan teoritis dari novel ini. Dijelaskannya bahwa alam semesta adalah sistem dinamis yang digerakkan oleh aliran keajaiban-keajaiban kecil yang berlangsung secara terus-menerus. Bukan itu saja. Alam semesta juga merespons kesadaran kita melalui berbagai kebetulan yang dapat kita alami setiap saat.

Hidup Adalah Kemungkinan

Kebetulan bisa menyangkut munculnya seseorang pada saat yang tepat dengan membawa informasi atau sesuatu yang memang kita cari. Bisa juga kesadaran mendadak bahwa hobi atau ketertarikan yang kita miliki di masa lalu, ternyata merupakan persiapan untuk menangkap kesempatan atau peluang kerja di depan mata.

Psikolog Swiss, Carl Jung, adalah pemikir modern pertama yang menjelaskan fenomena misterius ini. Ia menyebut dengan istilah sinkronisitas. Jung berpendapat sinkronisitas adalah prinsip sebab-akibat dalam alam semesta, hukum yang menggerakkan umat manusia menuju pertumbuhan kesadaran yang lebih besar.

Dalam Celestine Vision, Redfield mengemukakan bahwa kunci paling penting dalam upaya memanfaatkan berbagai sinkronisitas dalam kehidupan kita adalah tetap waspada serta meluangkan waktu untuk mengkaji apa yang sedang berlangsung. Kita mesti mulai melihat bahwa berbagai kebetulan dalam hidup kita adalah misteri yang membawa kita berhadapan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan spiritual yang lebih dalam tentang kehidupan.

Di sini kita bisa mensimetrikan pendapat Redfield dengan Martin Heidegger, yang mengungkapkan pemikiran bahwa barang siapa mencari kedalaman, mulailah dengan yang dangkal-dangkal dan melihat kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan dalam, maka kedalaman itu akan muncul dari hal-hal yang bersifat permukaan.

Heidegger melihat manusia adalah entitas yang bergerak dalam pemahaman tentang Ada-nya di dunia. Maka dalam keseharian pun manusia dapat memetik pemahaman tentang ''Ada'' melalui kewaspadaan dan meluangkan waktu untuk mengkaji apa yang sedang berlangsung. Dalam Being and Time, Heidegger mengatakan ini sebagai mistik keseharian, yaitu bersikap mistis dalam keseharian; yang berarti menghayati keseharian secara mendalam sampai ke dasar-dasar ''Ada'' kita sendiri, dengan cara terus-menerus menanyakan ''Ada''.

Sinkronisitas dan Energi Ilahi

Sinkronisitas bisa dirasakan ketika manusia bersikap mistis dalam keseharian seperti dimaksudkan Heidegger. Sinkronisitas adalah kesadaran tentang bagaimana hal-hal Ilahi terjadi dalam kehidupan kita. Dalam sinkronisitas terjadi penyatuan antara transendensi dan imanensi. Tuhan tidak mengawang-awang di atas sana, melainkan hadir melalui kebetulan-kebetulan di keseharian. Kebetulan yang sejatinya merupakan jawaban atas doa kita.

Berarti di sini manusia mesti terlebih dulu membuat keputusan mengenai arah hidup dan selanjutnya peka terhadap kebetulan-kebetulan yang menuntun pada arah yang dituju. Dengan menyadari sinkronisitas, diharapkan kita tak lagi melempar tanggung jawab hidup kita ke atas langit, namun berani menghadapi dan memutuskan apa yang mau kita tuju.

Di sinilah kita diajarkan bertanggung jawab atas konsekuensi keputusan hidup. Melalui cara pandang Celestine, manusia diajak melihat bahwa alam semesta bukan bekerja atas dasar ''Manusia berusaha, Tuhan menentukan'', melainkan ''Manusia menentukan, Tuhan mengusahakan."

Jika penentuan dianggap ada di tangan Tuhan, maka tak ada tanggung jawab manusia atas hasil keputusannya sendiri. Padahal, justru manusia mesti menentukan terlebih dahulu apa yang diinginkannya. Jika keinginan itu selaras dengan keseimbangan semesta, maka energi Ilahi akan membantu (mengusahakan) tercapainya keinginan lewat kebetulan-kebetulan yang sejatinya bukan kebetulan. (*)

---

Judul Buku: The Celestine Vision

Penulis: James Redfield

Penerjemah: Rosemary Kesauly

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Juni 2008

Tebal: 312 Halaman

SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU

(Untuk puteraku, Isaias Sadewa)
Oleh : W.S. Rendra

Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru. Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya. Hatinya damai, di dalam dadanya yang bedah dan berdarah, karena ia telah lunas menjalani kewjiban dan kewajarannya.
Setelah ia wafat apakah petani-petani akan tetap menderita, dan para wanita kampung tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ? Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup. Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka. Saat itu ia mendengar nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.
Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa. Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan. Di saat badan berlumur darah, jiwa duduk di atas teratai.
Ketika ibu-ibu meratap dan mengurap rambut mereka dengan debu, roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala untuk menanam benih agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas - dari zaman ke zaman

Jakarta, 2 Sptember 1977 Potret Pembangunan dalam Puisi

Iklan Selamat Ultah buat Mega dan Tutut dari Golkar

hari ini aku melihat Iklan menarik di harian Kompas.
Iklan dari Golkar kepada Hj.Megawati Soekarno Putri dan Hj. Siti Hardianti Rukmana. Ternyata beliau berdua berulang tahun pada tanggal yang sama 23 Januari. Sedangkan Partai Golkar, pada Pemilu 2009 ini juga mendapatkan nomor urut 23.

Kita tahu, beliau berdua adalah tokoh wanita di Indonesia. Walaupun ada pada kutub politik yang berbeda, namun mereka akan bisa dilihat sama dalam dimensi mereka masing - masing. Mega anak presiden Soekarno, Tutut anak presiden Soeharto. Mereka berdua juga mempunyai masa, loyalis masing - masing pula.

Apakah ini sebuah kebetulan, yang kebetulan juga ditangkap oleh Partai Golkar yang bernomor urut 23 ?

Aku tidak sepenuhnya yakin ini adalah kebetulan belaka. aku meyakini, didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan, walaupun dianggap kebetulan. aku kadang berpikir, fenomena ini adalah semacam sinyal dari alam raya. Carl Gustav Jung, psikolog psikoanalisa mengistilahkanya dengan "sinkronisitas". Tapi benarkah demikian ?( sinkronicity atau kebetulan yang bukan kebetulan, aku akan membahasnya lebih lanjut)

Aku pernah membaca, bahwa kehidupan dalam dimensi ruang dan waktu juga akan selalu membangun, membangun baik positif maupun negatif sesuai dengan pikiran pihak yang berkepentingan atau yang memikirkanya.cepat atau lambat itu akan terbentuk. (dalm hal ini, aku akan membahasnya lebih lanjut juga)

Apakah ini pertanda bahwa akan datang kondisi si Banteng dan si Beringin akan bersatu ?
Kita tidak tahu, tapi mari kita lihat bersama - sama hasilnya...

Pengumpul Tulisan

aku informasikan lebih dulu, selain menulis, aku juga merasa diriku juga seorang pengumpul tulisan. di file pribadiku banyak terdapat file - file tulisan dari berbagai sumber yang saat itu menarik perhatianku. tentu saja aku "memetik" tulisan - tulisan itu untuk menghilangkan dahaga ku tentang sesuatu.
Tulisan - tulisan itu berupa artikel, resensi maupun berita - berita, bahkan gambar - gambar yang menarik hatiku. Medio tahun tulisan itu bisa dari 1998 - 2009 saat ini.
Suatu saat aku akan mempubliksaikan lewat blog ini, satu persatu, tentu itu adalah bagian dari diriku.tema -temnaya adalah bagian dari "archetype" yang membentuk pribadiku saat ini.

Menulis lagi

mulai hari ini, bahkan detik ini, aku mencoba untuk menulis lagi. bukan hal yang berat, namun hal - hal kecil disekelilingku, yang bisa jadi sangat sarat makna, tapi selama ini terabaikan.

begitupun hari ini, aku telah kehilangan beberapa tulisan, bukan beberapa, tapi banyak tulisan.
apa mau di kata, untuk memunculkanya aku harus menulis lagi, mencari rasa di jiwa untuk bisa memulai tulisan itu lagi, memeras otak untuk merangkai kata dan data.

aku pasti bisa.

Salam...

Sesuatu yang telah hilang tidak bisa kita ambil lagi. tidak pula untuk kita sesali.
maknanya, lebih baik kita jadikan pelajaran, ambil hikmahnya dan mengikhlaskanya lalu melangkahlah mantap kedepan.

Ini adalah blog keduaku, dari blog pertamaku yang hilang karena kesalahanku. itu adalah pelajaran untukku.

Semoga Bolg ini bermanfaat bagi kita semua. Amin