The Secret of Shambhala; In Search of the Eleventh Insight, James Redfield (Warner Books, New York, November 1999) xi + 238 hlm.
--------------------------------------------------------------------------------
PETUALANGAN spiritual ke Shambhala? Inilah gaya James Redfield mengemas novel spiritualnya The Secret of Shambhala, suatu kemasan yang tak saja mengusik kesadaran keimanan kita yang telanjur mapan, tetapi juga membuat kita terkagum-kagum seraya berteka-teki apa itu Shambhala? Hadirkah ia secara fisik atau sekadar mitos belaka? Dan bagaimanakah isi pencarian wawasan spiritual kesebelas dalam petualangan spiritual ke Shambhala?
Melalui kejelian membidik inti novel spiritual yang sarat percakapan antarsubjek (Bill, Natalie, Yin, Wilson James, Ani, Hanh, dll) dan obyek (Kathmandu, Nepal, dan Lasha di Tibet), maka tersingkaplah misteri Shambhala.
Awal pencarian Shambhala yang diceritakan Redfield, dimulai dengan kata-kata seorang anak perempuan bernama Natalie, 14 tahun umurnya. "She has some information about a place you would be interested in. Some location in the north of Tibet?" begitu novel ini dimulai, mengundang tanda tanya apa gerangan misteri di Tibet itu.
Bayangkan saja, konsentrasi pikiran kita tersedot pada petualangan spiritual ke Pegunungan Himalaya yang diselimuti salju, sambil intuisi kita menerawang kota suci yang bertebaran intan dan permata di mana hidup komunitas suci ribuan tahun lamanya dengan penuh keselarasan. Shambhala-kah itu? Ya, sesuai tradisi spiritual di Tibet.
Konon, ia memang benar-benar ada secara fisik, terletak di kawasan utara Tibet (Cina). Hanya saja belakangan ini spiritualis Buddha rupa-rupanya meliput Shambhala hanyalah sebagai representasi "a spiritual state of mind," bukan tempat yang nyata (Lihat: Shambhala, Pengalaman Spiritual Lintas Agama). Nah, sebagai a spiritual state of mind, Shambhala pun menjadi cara/jalan hidup bagi para spiritualis dan mistikus.
Mereka itu selalu mengajarkan tentang pandangan dan sikap hidup yang harmonis, selaras, bermakna, dan sarat keinsyafan spiritual. Itu pula sebabnya kenapa Taoisme di Cina begitu fenomenal di kalangan spiritualis.
Ia memang mengartikulasikan pesan Shambhala: sikap hidup yang arif dan bijak. Persis seperti yang dipopulerkan Marc de Smedt (1996) sebagai The Wisdom of Tao. Suatu kebijakan hidup model Taoist-spiritualis yang menjadi hakikat Shambhala.
Maka, jika novel ini diletakkan dalam kerangka "a spiritual state of mind" yang menjadi hakikat Shambhala, di sinilah kita dapat menangkap pesan sejati petualangan spiritual ke Shambhala. Karena, Redfield menjadikan The Secret of Shambhala hanyalah sebagai "sarana pencarian wawasan kesebelas" sebagaimana isi anak judul buku itu. Suatu pencarian wawasan spiritual yang kesebelas yang tak kunjung usai. Dan memang, bukankah pencarian dan petualangan spiritual itu sendiri tak akan pernah usai?
Bayangkan saja, novel The Celestine Prophecy yang diluncurkan Redfield tahun 1993 (yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Manuskrip Celestine) dengan sajian sembilan wawasan spiritual, ternyata laku keras di pasar Amerika. Sesuai info terakhir dalam sampul belakang buku ini, sudah 8,5 juta salinan terjual habis di lebih dari 35 negara. Sungguh luar biasa, dan kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala saja! Dari hanya sembilan wawasan spiritual dalam Manuskrip Celestine, ternyata menyedot perhatian publik, utamanya generasi baru (New Age) yang bosan dengan kebisingan dunia modern dewasa ini.
Lebih-lebih sejak Redfield meluncurkan sepuluh wawasan (spiritual) dalam The Tenth Insight: Holding the Vision (1996), novel The Celestine Prophecy bersama The Tenth Insight langsung ngetop menjadi bestseller selama 74 minggu di daftar buku terlaris New York Times, AS. Ini membuat Redfiled menjadi terkenal.
Pertama, ia terpilih sebagai penulis bestseller hardcover di dunia pada tahun 1996, sebagaimana disiarkan BP Report 13 Januari 1997. Dan kedua, Redfield pun memperoleh penghargaan tertinggi yang diberikan Senat Italia pada Konferensi Internasional ke-23 Pio Manzu di Rimini, Italia, Oktober 1997. Sebagai informasi, Pio Manzu adalah organisasi non-pemerintah di bawah naungan PBB yang diketuai mantan Presiden Uni Soviet, Mikhel Gorbachev.
***
SEKARANG pertanyaannya adalah kenapa publik begitu antusias menyambutnya? Di samping berkat genuisitas dan otentisitas wawasan spiritual Redfield, publik juga sedang mengalami apa yang oleh Rederic dan Mery Ann Brussat disebut gejala "kemelekan spiritual". Dalam pembukaan buku antologinya Spiritual Literacy; Reading the Sacred in Everyday Life (1996), penulis itu mengatakan hidup ini adalah petualangan suci. Persis gaya petualangan spiritual ke Shambhala dalam buku ini.
Itulah sebabnya ketika terdengar kabar manuskrip Celestine kuno itu ditemukan, apalagi disajikan Redfield dengan gaya petualangan-ibarat drama-drama horor-yang berlangsung di Peru, antusiasme mereka makin menjadi-jadi. Maklum, manuskrip itu sengaja dikemas Redfield dengan sajian wawasan spiritual yang genuine yang selama ini digandrunginya.
Sesuai transkrip The Celestine Insight dalam Jurnal Celestine, sepuluh wawasan spiritual itu meliputi A Critical Mass, The Longer Now, A Matter of Energy, The Struggle for Power, The Message of the Mystics, Clearing the Past, Engaging the Flow, The Interpersonal Ethic, The Emerging Culture, and Holding the Vision.
Kesepuluh wawasan itu sebenarnya berujung menuju pencerahan spiritual tulen. Sayang, untuk menuju ke situ kadang penuh lika-liku kehidupan, bahkan sarat pengalaman misterius. Bayangkan, manuskrip yang berisi wawasan kehidupan itu malah dituangkan Redfield sebagai ceritera petualangan, ibarat drama-drama horor yang berlangsung di Peru.
Bukankah itu benar-benar misterius? Lebih misterius lagi, A Critical Mass yang menjadi wawasan pertama manuskrip itu justru menceritakan berkembangnya suatu kesadaran di antara individu-individu dalam kelompok massa yang kritis, yang mulai menyadari bahwa hidup ini adalah suatu perjalanan "kosmis" yang sarat dengan "kebetulan-kebetulan hidup secara misterius".
Psikolog Carl Gustav Jung menyebut hal itu sebagai synchronicity, yakni persepsi mengenai hal-hal kebetulan hidup yang justru memiliki makna. "Synchronicity was a causal principle in the universe," kata Jung dalam karyanya Synchronicity, (New York, 1960).
Synchronicity sebagai prinsip tanpa sebab di alam semesta ini, merupakan sebuah hukum yang dapat menggerakkan manusia ke arah pertumbuhan kesadaran baru yang jauh lebih besar. Dalam proses sinkronisitas itu manusia memang merasakan adanya suatu realitas berkenaan dengan beroperasinya "kekuatan spiritual" dalam kehidupannya. The Celestine Prophecy bahkan menyebut "doa kita kepada Tuhan, akan dijawab dengan kebetulan itu". Sungguh aneh bin ajaib. Tetapi, ini betul-betul nyata.
Petualangan spiritual ke Shambhala memang sarat koinsidensi, sinkronisitas, untuk menemukan wawasan spiritual kesebelas. Ternyata, ini yang membuat saya terkagum-kagum, wawasan spiritual yang kesebelas di era millenium ketiga ini, justru extending our prayer fields.
Bukankah itu pesan perenial semua agama yang selama ribuan tahun telah menjadi jalan hidup spiritualis di Shambhala? Kita pun akhirnya sadar, betapa tepatnya Redfield menyajikan wawasan spiritual yang kesebelas ini, prayer fields, dengan gaya petualangan spiritual ke Shambhala.
Sampai di sini, novel spiritual itu memasuki wilayah agama. Seperti The Call of Shambhala yang menjadi bagian kedua novel ini, justru menekankan adanya One Reality, Satu Realitas yang menjadi sumber awal dan akhir dari semua agama. "There is only one divine source," itulah pesan Shambhala yang sebenarnya menjadi pangkal keimanan setiap penganut agama selama ini di satu sisi, dan sekaligus menjadi titik temu agama-agama pada tingkat mistik-spiritual.
Yang terakhir ini banyak ditemukan dalam berbagai literatur Shambhala. Bhagavan Das, pemikir India era 1930-an, misalnya, sudah mematangkan konsep the essential unity of all religions". Fritjof Schuon, filsuf perenialis yang pemikirannya khas Shambhala, malah menulis buku The Transcendent Unity of Religions (1975).
Karena itu tepat sekali kesimpulan Redfield bahwa petualangan spiritual ke Shambhala itu sejatinya merupakan praktik spiritual otentik (prayer) yang mempertemukan semua penganut tradisi esoteris agama-agama. Shambhala, kata Redfield adalah the synthesis of all religions, sintesa agama-agama. (Sukidi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar