Oleh Sukidi
"...If we belong to God,
God belongs to us;
we are in a relationship.
This is mysticism of course,
but any one of us can experience it daily. God is related to us in a personal way..."
(David Steindl-Rest
with Thomas Matus, in Fritjof Capra,
Belonging to the Universe, 1991).
"Mystical identification transcends
the aristocratic virtue courageous
self-sacrifice.
It is self-surrender
in a higher, more complete,
and more radical form.
It is the perfect of self-affirmation."
(Paul Tillich, The Courage to Be, 1952).
SHAMBHALA sebagai refleksi pengalaman spiritual? Inilah disclosure baru, yang tak saja menajamkan aspek teoretis Shambhala, tetapi juga menyingkap the heart of Shambhala sebagai spiritual experience. Pengalaman ini diharapkan dalam menjadi life style manusia era milenium ketiga ini yang bersandar pada kearifan dan kebijakan hidup model Shambhala.
Wawasan teoretis Shambhala
Dalam pegunungan dekat Tibet yang diselimuti salju terdapat komunitas suci yang sudah lama dipikirkan "orang" sebagai "mitos." Mitos yang telanjur menjadi "utopia" legendaris komunitas Tibet. Legenda adanya pusat kearifan paradise, kebijaksanaan abadi dan universal, yang menjadi tempat suci spiritualis, khususnya Buddhis, Taois, spiritualis Hindu dan Shamanisme. "There is not even a sign of nonvirtue or evil in these lands," begitu ditegaskan spiritualis Garje K'am-trul Rinphoce dalam A Geography and History of Shambhala, 1974.
Betul, jangankan kejahatan, kosa kata perang dan permusuhan pun tak dikenal. Yang hidup dalam keseharian hanyalah kebahagiaan, keharmonisan, dan kearifan. Inilah the place of peace, of tranquillity, yang bernama Shambhala (Sansekerta, Asia); Aryavarsha (Hindu); Hsi Tien (Cina); Belovodye (Rusia Kuno); Janaidar (Kirghiz). Di Barat, kebanyakan orang lebih mengenalnya Shangri-la, "mitos surga" yang diabadikan novelis James Hilton dalam Lost Horizon dan filmnya.
Sebagai the place of peace, Shambhala secara eksternal sesuai tradisi Buddha di Tibet, ditafsirkan sebagai a geographic location, lokasi geografis yang menjadi sumber inspiratif Sang Buddha dalam mengajarkan Kalachakra Tantra. Kitab klasik ini mengupas misteri Shambhala. Dalam mitologi Pon (kepercayaan asli orang Tibet), diceritakan lokasinya di Central Asian Kingdom yang dipercayai menjadi sumber dan pusat energi spiritual. Saking indahnya Shambhala, spiritualis Andrew Tomas menamai judul bukunya Shambhala: Oasis of Light (London, 1976). "Shambhala is a center of high evolutionary energies in Central Asia," begitu juga dikukuhkan Rene Guinon dalam bukunya The Lord of the World (UK, 1983).
Shambhala pun lantas menjadi simbol keharmonisan hidup dengan jalan spiritual. Chugyam Trungpa, spiritualis yang otoritatif menyingkap tabir Shambhala menyebutnya "authentic spiritual practice", praktik spiritual yang otentik, yang telah ribuan tahun lamanya menjadi jalan hidup para spiritualis dan mistikus.
Pengalaman spiritual lintas agama
Jalan spiritual dimaksud, sudah ditemukan Redfield sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala (1999), yakni prayer fields, core sejati Shambhala yang menjadi pengalaman spiritual lintas agama. Bukankah prayer fields, sekali lagi, menjadi pesan perenial semua agama?
Dalam agama Buddha, misalnya, prayer fields adalah hakikat Shambhala itu sendiri, yang menjadi kodratnya Buddha, yang karenanya diekspresikan dengan meditasi sebagai pengalaman spiritual. "Meditation is the method of realizing, or reflectively considering, a religious truth in order to arrive at a personal understanding and love for what it signifies." Tepat jika agama Buddha menjadikannya sebagai the Heart of Buddhist Meditation. Ini karena kata kunci meditasi dapat membuka kesadaran hati untuk mengalami apa yang oleh Maharishi Mahesh Yogie (1958) dinamakan transcendental meditation. Puncak meditasi yang membuat spiritualis Buddha mengalami great relaxation, inner peace, enhanced vitality and creativity. Inilah model spiritual adventure khas Shambhala dalam agama Buddha, yang mempraktikkan prayer fields dengan jalan meditasi sebagai pengalaman spiritual.
Prayer fields, yang menjadi core Shambhala sebenarnya juga merupakan model pengalaman spiritual dalam tiga agama semitik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Bukankah tafsiran mudahnya prayer adalah doa itu sendiri, yang selama ini menjadi tradisi spiritual penganut ketiga agama besar itu?
Spiritualis Yahudi, misalnya menghayati Cabala sebagai sistem pengalaman spiritualnya. Dan menjadi rahasia umum pula, bahwa bangsa Yahudi selalu merasakan sebagai the experience of feeling chosen. Juga spiritualis Kristen, baik Katolik maupun Protestan, meyakini the true devotional, dan the idea of Holy Spirit sebagai pengalaman spiritual yang mencerahkan batin. Hal itu tidak saja merupakan peningkatan kesadaran diri sebagai bagian dari Tuhan, tetapi juga meningkatkan pengalaman diri sebagai a higher self. Itulah sebabnya, spiritualis Kristen meyakini Yesus Kristus yang merupakan bentuk perwujudan dari "Kehadiran" Yang Ilahi sebagai jalan keselamatan bagi orang-orang Kristen.
Sebagai Muslim, prayer fields, yang menjadi core Shambhala, tak lain dan tak bukan adalah doa itu sendiri yang sudah lama dipraktikkan seorang Muslim. Dalam shalat, zakat, puasa, dan haji, setiap Muslim selalu berdoa kepada Allah. Begitu pula dalam aktifitas keseharian, Muslim selalu diperintahkan untuk mengawali aktivitasnya dengan doa. Dan jangan kaget jika belakangan ini, mayoritas Muslim sedang meningkat pesat dalam tasawuf sebagai spiritual healing (Robert Peel) dan the faith healing (Claude Frazier). Katanya, "faith healing is the cure or relief of physical or mental ills by prayer or religious rituals," begitu rumusan pemikiran yang khas Shambhala Claude Frazier dalam Faith Healing: Finger of God? Or Scientific Curiosity? (1973).
James Redfield, pencetus prayer fields sebagai wawasan spiritual kesebelas dalam The Secret of Shambhala, berkesimpulan: "each religion emphasized different aspects of this mystical interaction with God." Jadi, pengalaman spiritual lintas agama seperti dipaparkan di atas, hanyalah beda penekanannya saja, dalam konteks interaksi-spiritual dengan Tuhan. Tetapi, pada tingkat esoteris (kata Huston Smith), esensial (kata Baghavan Das), atau transenden (kata Fritjof Schuon), semua agama mengalami titik temu, yang dalam The Secret of Shambhala disebut-sebut Redfield sebagai One Reality, dan One Divine Source.
Secara jenius Redfield melanjutkan kesimpulannya: "the integration of all religious truth is important if the force of prayer-energy is to grow large enough to resolve the dangers posed by those who fear." Sungguh liberal! Ternyata, titik temu agama-agama yang diekspresikan dalam pengalaman spiritual lintas agama menjadi penting manakala kekuatan energi doa meningkat cukup pesat untuk mengatasi bahaya dan ketakutan eksistensial yang seringkali menghantui keseharian hidup kita.
Prayer, pada akhirnya mengingatkan saya pada Ibu Teresa dalam ungkapan bijaknya, "prayer in action is love, and love in action is service." Suatu mutiara bijak khas Shambhala, yang langka di tengah kebisingan dunia modern dewasa ini. Kemudian saya membayangkan, jika setiap manusia di planet Bumi ini tercerahkan dengan keinsyafan spiritual, dengan prayer field yang menjadi core Shambhala dan pesan suci semua agama, maka saya sedang menyaksikan lahirnya generasi baru yang dalam manuskrip The Celestine Vision disebut-sebut sebagai Spiritual Being of Lights. Prototipe makluk spiritual yang tercerahkan, bersifat rohani-spiritual, dan karenanya, mengalami keselerasan dan keharmonisan hidup.
* Sukidi, staf Dubes RI di Oslo, alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Ciputat, e-mail; Sukidioslo@hotmail.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar